Tiket Pesawat dari Jakarta - Palembang

Sekali JalanPulang Pergi
Tanggal Pergi
18 Juni 2019
Tanggal Pulang
20 Juni 2019
Penumpang
1 Dewasa
Kelas
Ekonomi
Cari Tiket
Widget17

Cari Tiket Pesawat Murah ke Palembang

    Lihat Semua Kota

    Bandara di Jakarta

    Bandara Soekarno Hatta (CGK)Bandar Udara Halim Perdana Kusuma (HLP)Bandara Pondok Cabe (PCB)

    Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta terletak di Tangerang, Banten dan Cengkareng,
    Jakarta. Bandara ini pertama kali beroperasi pada tanggal 1 Mei 1985, menggantikan Bandar
    Udara Kemayoran di Jakarta Pusat yang sudah ditutup di tahun yang sama. Bandara ini diberi
    nama sesuai dengan nama presiden dan wakil presiden pertama di Indonesia, yaitu Soekarno
    dan Mohammad Hatta. Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta memiliki luas 18 km persegi
    dengan 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km. Pada tahun 2011,
    bandara ini menduduki posisi ke-12 bandara dengan penumpang terbanyak di dunia, dengan
    perkiraan mampu menampung 19 juta hingga 25 juta penumpang per tahun.

    Hingga saat ini, di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta terdapat tiga terminal bandara
    beroperasi dan satu terminal yang sedang dibangun:

    1. Terminal 1
      Terletak di sisi selatan bandara, terminal ini mengoperasikan penerbangan rute
      domestik selain maskapai Garuda Indonesia. Gerbang di Terminal 1 memiliki awalan
      huruf abjad A, B, dan C.
    2. Terminal 2
      Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta dibuka pada tahun 1992 dan terletak
      di sisi utara bandara. Terminal ini melayani penerbangan rute internasional dan
      domestik.
    3. Terminal 3
      Terminal 3 atau T3 resmi beroperasi pada tahun 2011. Terminal ini mengoperasikan
      penerbangan domestik khusus maskapai Garuda Indonesia, dan penerbangan
      internasional oleh berbagai maskapai seperti Saudi Arabian Airlines dan Korean Air.
    4. Terminal 4
      Dikarenakan semakin meningkatnya jumlah penumpang, Terminal 4 rencananya akan
      dibangun pada tahun 2020 dan berlokasi di sisi utara Bandara Internasional Soekarno
      Hatta.
    Selengkapnya

    Bandar Udara Halim Perdanakusuma merupakan sebuah bandara yang dikelola oleh PT
    Angkasa Pura II dan terletak di Kecamatan Makasar, Jakarta, Indonesia. Bandara ini juga
    beroperasi sebagai markas besar Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) TNI-AU.
    Awalnya, bandara ini diberi nama Vliegveld Tjililitan atau Lapangan Terbang Cililitan ketika
    pertama kali dibuka pada tahun 1925. Lapangan Terbang Cililitan menjadi lapangan terbang
    pertama di Hindia Belanda yang melayani penerbangan internasional. Setelah Belanda
    menyerahkan kepemilikan landasan udara ini ke pemerintah Indonesia sepenuhnya pada
    tanggal 20 Juni 1950, AURI pun segera mengambil alih dan menjadikannya pangkalan udara
    militer. Namanya pun diganti sesuai dengan nama pahlawan nasional, Abdul Halim
    Perdanakusuma, pada hari kemerdekaan Indonesia yang ketujuh.

    Sebelum tahun 2014, bandara ini hanya melayani penerbangan VVIP dan charter flight, setelah
    kemudian bandara ini dialihfungsikan menjadi bandara komersial akibat penuhnya penerbangan
    di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 3
    kilometer, dengan luas tanah mencapai 170 hektar dan luas terminal sekitar 19 kilometer
    persegi. Diperkirakan Bandara Halim Perdanakusuma dapat menampung sebanyak 15 ribu
    penumpang setiap harinya. Fasilitas yang dimiliki oleh bandara ini pun cukup lengkap, seperti e-
    kiosk, konter check in, musholla, ruang tunggu, ATM center, dan toilet. Adapun maskapai
    penerbangan yang beroperasi di Bandara Halim Perdanakusuma adalah Citilink, Batik Air,
    Wings Air, Susi Air, TransNusa, dan Pelita Air.

    Selengkapnya

    Bandara Pondok Cabe (PCB) yang terletak di kawasan Pondok Cabe Udik, Pamulang,
    Tangerang Selatan, Banten ini dulunya merupakan pangkalan militer di era Perang Pasifik.
    Pada tahun 1942, saat pasukan Sekutu ABDA (America, British, Dutch, Australia menduduki
    Indonesia, bandara ini dibangun untuk menghalau invasi pasukan Jepang ke Jawa sebagai
    bentuk pertahanan militer. 32 pesawat tempur disiapkan di bandara ini. Pondok Cabe dianggap
    sebagai lokasi yang tepat sebagai tempat perlindungan karena masih rimbunnya lingkungan
    sekitar saat itu. Bandara Pondok Cabe menerima 25 unit Hawker Hurricane RAF, diikuti dengan
    Skuadron 36, Skuadron 100 RAF, pesawat Vickers Vildebeest dan bomber torpedo Fairey
    Albacore.


    Pembangunan dilanjutkan pada tahun 1972 oleh Pertamina sebagai tempat bersarangnya
    pesawat-pesawat milik Divisi Penerbangan Pertamina, yang merupakan cikal bakal PT PAS.
    Pesawat-pesawat milik PT PAS ini digunakan untuk mendukung program transmigrasi yang
    dicanangkan pemerintah Indonesia pada waktu itu. Bandara Pondok Cabe pada masa itu juga
    turut mendukung operasional kontraktor production sharing dan perusahaan migas di
    Indonesia. Lapangan terbang tersebut mengalami pengembangan lebih lanjut yang ditandai
    dengan pembangunan infrastruktur seperti perpanjangan landasan pacu, penambahan apron
    dan hanggar. Setelah tahun 1985, lapangan terbang itu juga menjadi basis operasi Polisi
    Udara, Penerbang TNI AL, Skuadron 21/Serba Guna Penerbang TNI AD, dan Persatuan Olah
    Raga Terbang Layang Jakarta Raya.

    Meskipun saat ini Bandara Pondok Cabe masih hanya dapat melayani penerbangan charter
    untuk berbagai perusahaan minyak dan gas di Indonesia, nantinya pada akhir tahun 2018,
    landasan udara ini akan melayani penerbangan reguler alias dikomersilkan. Ekspansi ini terjadi
    setelah dilakukan revitalisasi yang mencakup lahan seluas 119 hektar dan landasan pacu
    sepanjang 2.200 meter. Pesawat Boeing Classic dan pesawat-pesawat propeller reguler
    maupun non-reguler nantinya akan dapat mendarat di landasan pacu ini. Saat ini, Pelita Air
    Service merupakan pihak yang mengelola bandara. Perusahaan tersebut juga mengoperasikan
    maskapai Pelita Air. Bandara Pondok Cabe dikomersilkan untuk menghadapi lonjakan
    penumpang di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.

    Selengkapnya

    Bandara di Palembang

    Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM)

    Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM) adalah bandar udara internasional yang melayani
    kota Palembang, Sumatera Selatan dan sekitarnya. Bandara ini terletak di wilayah KM.10
    Kecamatan Sukarame. Nama Bandara ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II, seorang
    Pahlawan Nasional Indonesia yang pernah memimpin kesultanan Palembang Darussalam. Bandara
    ini resmi menjadi bandara bertaraf internasional pada tahun 1970. Bandara Internasional Sultan
    Mahmud Badaruddin dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur berupa landasan pacu sepanjang
    3.000 meter x 60 meter yang dapat dilalui pesawat Airbus 330 seta Boeing 747, lahan parkir
    kendaraan seluas 20.000 meter yang mampu menampung 1.000 kendaraan serta gedung terminal
    penumpang seluas 13.000 meter persegi yang dapat menampung hingga 1250 orang penumpang,
    dilengkapi dengan garbarata, terminal kargo dan bangunan penunjang lainnya seluas 1.900 meter
    persegi.


    Berikut detail terminal Bandara Kualanamu yang sudah operasional:
    Terminal Bandara Kualanamu memiliki total luas sebesar 2,3 hektar dan memiliki kapasitas
    penerbangan berjumlah 4.170.000 orang penumpang per tahun. Bandara ini memiliki area check-in
    seluas 1.1092 m2 dengan jumlah 18 counter check-in. Bandara ini dilengkapi dengan berbagai
    fasilitas penunjang yang lengkap seperti, anjungan pengantar, area bermain anak, lounge,
    musholla, ruang istirahat, nursery room, smoking room, toilet, wifi gratis dan lain-lain.

    Selengkapnya

    Kuliner dan Hiburan di Palembang

    12 Kafe & Tempat Nongkrong di Palembang Paling Seru
    Jadi Tuan Rumah Asian Games, Inilah 7 Fakta Unik Kota Palembang!
    9 Hal Seru yang Bisa Kamu Lakukan saat Liburan ke Palembang!
    14 Destinasi Wisata Kuliner Palembang Terlezat Favorit!
    Mengenal 10 Jenis Pempek Asli Palembang Terpopuler