Cerita Mudik Tiga Pulau dari Nakama Tokopedia

82

Mudik atau “Mulih Dilik” adalah tradisi pulang kampung yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia menjelang Lebaran. Pada momen ini, para perantau pulang ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu dengan sanak saudara.

Tradisi ini juga dilakukan oleh Nakama Tokopedia yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kali ini, tiga Nakama Tokopedia yang berasal dari Lombok, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur akan berbagi cerita pengalaman mudik mereka.

Bianca Adriennawati – Merayakan Lebaran dengan Berkeliling Lombok

Selepas Gempa Bumi yang melanda Lombok tahun lalu, ada banyak lokasi wisata yang belum sempat dikunjungi kembali oleh Bianca Adriennawati, Corporate Communications Tokopedia. Oleh karena itu, pada momen mudik kali ini Bianca dan keluarganya memilih untuk menghabiskan waktu lebaran dengan berjalan-jalan keliling Lombok.

Selain tradisi pawai obor pada malam takbiran dan ziarah kubur setelah Salat Ied, Bianca bercerita bahwa masyarakat Lombok memiliki tradisi ‘Lebaran Topat’. ‘Lebaran Topat’ adalah perayaan ‘lebaran kecil’ yang dilakukan setelah melaksanakan puasa Syawal, yakni puasa sejak hari kedua hingga keenam setelah lebaran.

“Pada hari Lebaran, biasanya kita silaturahmi ke keluarga, nah pas Lebaran Topat, baru deh masyarakat Lombok pergi berekreasi. Di tempat yang jadi pusat perayaan seperti Senggigi misalnya, orang-orang berkumpul untuk berdoa bersama dan dilanjutkan dengan makan ketupat bareng sambil menonton pertunjukan daerah seperti rudat, dan lain sebagainya,” cerita Bianca.

Bianca berfoto bersama Ayah, Ibu, dan kedua adiknya.

Hanya saja, mengingat keterbatasan waktu cuti, Bianca lebih memilih untuk tidak menunggu Lebaran Topat untuk berjalan-jalan. Sejak hari kedua lebaran, Bianca sudah mulai berkeliling, mulai dari mengunjungi pantai-pantai di daerah Lombok Tengah hingga berkemah di kaki Gunung Rinjani.

“Tahun ini, aku sekeluarga sengaja memilih untuk berkeliling untuk melihat suasana Lombok pasca gempa. Alhamdulillah semuanya udah berjalan normal, sepanjang jalan juga aku sempat melihat beberapa kompleks perumahan anti gempa yang baru dibangun,” jelasnya.

Menurut Bianca, mudik adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman lama, sekaligus untuk menikmati keindahan alam di kampung halaman. “Saat ini, perkembangan pariwisata di Lombok cepet banget. Setiap mudik, pasti ada banyak hal yang berubah, khususnya lokasi wisata. Makanya, momen mudik selalu aku gunakan untuk jalan-jalan supaya selalu mengikuti perkembangan yang ada,” tutup Bianca.

Ahmad Shobirin –  Bantu Renovasi Rumah Orangtua

Kesempatan mudik yang datang setahun sekali selalu dinanti-nantikan oleh Ahmad Shobirin, Customer Experience Tokopedia. Kerinduan akan rumah membuatnya rela menghabiskan waktu hingga 7 jam untuk bisa sampai ke rumahnya di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

“Setelah naik pesawat 1,5 jam dari Jakarta ke Pontianak, aku harus melanjutkan perjalanan naik travel atau bus. Sekarang aku cukup beruntung karena jalanan sudah diperbaiki, jadi perjalanan ke Sekadau bisa lebih cepat, hanya 4 jam. Sebelumnya, jalanannya tuh berlubang parah jadi satu kali perjalanan bisa sampai 6 jam,” cerita Shobirin.

Suasana lebaran di kampung halaman adalah salah satu hal yang membuat Shobirin selalu ingin pulang. Di Sekadau, Shobirin biasanya mengikuti tradisi menyalakan meriam bambu bersama tetangga di sekitar rumah.

Meriam bambu yang biasanya dinyalakan oleh masyarakat Sekadau

Berbeda dengan kebiasaan pada umumnya, masyarakat Sekadau tidak melakukan ziarah Kubur pada hari Lebaran. Sebaliknya, mereka melakukan ziarah kubur pada hari ketiga lebaran yang diikuti dengan tradisi Beroah, yakni membacakan doa untuk arwah keluarga yang telah meninggal dunia.

“Setelah berziarah dan salat Jumat, keluargaku mengundang tetangga dan orang-orang di sekitar rumah untuk datang ke rumah, berdoa, sekaligus makan bersama,” jelas Shobirin.

Setelah hari ketiga lebaran, barulah anak-anak muda di daerah Sekadau keluar berjalan-jalan mendatangi lokasi wisata di sekitar. Meskipun begitu, Shobirin tetap memprioritaskan orang tua. “Kemarin pas mudik aku bantu orang tua renovasi rumah, mulai dari cat seluruh rumah sampai ganti gorden. Aku kan anak laki-laki satu-satunya, jadi ya itu tanggungjawab aku,” jelas Shobirin.

Menurutnya, mudik adalah saat untuk berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia selalu memaksimalkan waktu mudik untuk membantu kedua orang tua.

Almas Salsabil – Pengalaman Pertama Mudik Bersama Suami

Mudik kali ini menjadi pengalaman yang spesial bagi Almas Salsabil, UI/UX Copywriter Tokopedia. Setelah menikah pada April lalu, tahun ini Almas menjalani mudik pertama bersama suami ke Surabaya, kampung halaman keduanya.

“Dari dulu aku hampir tidak pernah menjalani mudik, karena rumah aku tuh pas di sebelah rumah nenek. Biasanya kalau lebaran, aku tinggal ke sebelah rumah aja terus kumpul sama saudara-saudara,” cerita Almas.

Tahun ini, Almas merayakan hari pertama lebaran di rumah mertua. Sebagai anggota keluarga baru, pengalaman mudik ini juga menjadi kesempatan Almas untuk mengenal tradisi dalam keluarga suami, yang salah satunya adalah sungkeman.

“Aku sebelumnya nggak pernah sungkeman sama sekali karena di keluarga aku nggak ada tradisi itu. Makanya, waktu pertama kali tau ada sungkeman aku langsung panik tanya kanan kiri. Ternyata kita memberikan doa untuk Kakek Nenek sekaligus minta maaf gitu, sebaliknya nanti kita dikasih petuah sama mereka,” jelas Almas.

Almas berfoto bersama keluarga besarnya

Lebaran tahun ini juga menjadi pengalaman pertamanya membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keponakan dan sepupu-sepupu yang lebih muda. “Tahun lalu aku masih jadi penerima THR. Alhamdulillah tahun ini bisa gantian jadi pemberi THR, seneng aja sih bisa berbagi sama keponakan dan sepupu-sepupu,” jelas Almas.

Pada hari kedua, Almas dan keluarga besar barunya mengunjungi daerah Kertosono dan menghabiskan waktu berziarah ke makam keluarga. Tidak lupa, mereka juga berkeliling untuk bersilaturahmi serta mencicipi makanan favorit yakni Pecel Tumpang sebagai menu sarapan. Pecel Tumpang adalah pecel dengan bumbu tumpang yang terbuat dari tempe yang telah difermentasikan.

“Terus terang aku sempat deg-degan untuk mudik karena ini pengalaman pertama, tapi alhamdulillah pengalaman mudik kali ini sangat berkesan karena aku bisa belajar banyak hal dari keluarga baru aku,” tutup Almas.

Bagikan Artikel