Perjalanan Mencari Investor

885

Bisnis internet tidaklah pernah hanya sekedar pengembangan ide dalam wujud sebuah website, dan kemudian secara instan menjadi sukses besar. Logika dasar bisnis dimana “You have to spend money to make money” berlaku juga untuk sebuah bisnis internet dalam skala besar.

Dalam perjalanan Google misalnya, kedua co-founder nya Sergey Brin dan Larry Page sepanjang tahun 1998 berusaha mencari investor yang percaya akan ide mereka. Pada Agustus 1998, mereka baru berhasil mendapatkan cek pertama mereka sebagai modal awal sebesar 100 ribu US Dollar dari Andy Bechtolsheim, salah satu pendiri Sun Microsystems. Sebulan kemudian, pada tanggal 4 September 1998, Google, Inc. akhirnya didirikan dengan dana investasi total senilai 1,1 juta US Dollar. Tidak sampai satu tahun kemudian, pada tanggal 7 Juni 1999, Google, Inc. sudah mendapatkan investasi tambahan sebesar 25 juta US Dollar dari dua perusahaan modal ventura besar, Kleiner Perkins dan Sequoia Capital.

Berdiri pada tahun 2004, Facebook, Inc. mendapatkan investasi pertama mereka senilai 500 ribu US Dollar pada bulan Juni 2004 dari salah satu co-founder PayPal, Peter Thiel. Setahun kemudian Facebook sudah berhasil mendapatkan tambahan investasi senilai 12,7 juta US Dollar dari modal ventura Accel Partners, disusul 27,5 juta US Dollar tambahan lainnya dari Greylock Partners.

Satu kesamaan yang bisa kita lihat dari kisah sukses di balik Google & Facebook adalah mereka tidak hanya sekedar punya ide dan teknologi, tapi juga ada puluhan juta US Dollar dana investasi di tahun pertama perusahaan mereka berdiri.

Itulah sebabnya setelah menemukan ide, selain mencari nama untuk Tokopedia, sepanjang tahun 2007-2009 kami sibuk mencari pihak yang percaya dengan ide tokopedia. Percaya dalam arti bersedia mencurahkan dana investasi besar-besaran untuk realisasi ide tokopedia, tidak hanya sebagai produk, tapi juga sebagai sebuah bisnis besar, sebagai sebuah industri.

Why Reinvent the Wheel?

Sepanjang periode tersebut, Pak VF berbaik hati memperkenalkan kami kepada teman-teman pengusahanya. Dalam setiap kesempatan yang datang, saya dan Leon dengan semangat dan optimisme tinggi mempresentasikan ide Tokopedia, mulai dari latar belakang, studi pasar, perkembangan trend, hingga potensi bisnisnya.

Hanya saja, tidak satupun dari kesempatan tersebut mendapatkan tanggapan positif. Kebanyakan pengusaha yang kami temui pada waktu tersebut menanyakan pertanyaan yang kurang lebih sama.

Pertama umumnya menanyakan contoh kisah sukses nya di Indonesia? Siapa orang Indonesia yang sudah berhasil menikmati hasil dari bisnis internet? Pada periode tersebut, memang tidak ada nama yang dapat kami sebut atau referensikan. Indonesia bukanlah Sillicon Valley yang sudah memiliki nama-nama seperti Bill Gates, Steve Jobs, Sergey Brin, Larry Page, Mark Zuckerberg yang telah membuktikan bisnis teknologi dapat menjadi bisnis yang luar biasa besar.

Kedua, rata-rata menyatakan bahwa Indonesia ini adalah negara pasar yang sangat potensial. Hanya masalah waktu eBay, Rakuten, Alibaba, dan semua raksasa marketplace akan masuk ke Indonesia. Bagaimana mungkin orang Indonesia dapat membuat sebuah platform baru yang mampu menyaingi mereka. Atau istilah nya Leon, para calon investor ini bertanya “Why reinvent the wheel?”

Kemudian umumnya menanyakan tiga pertanyaan tentang latar belakang, “Apa latar belakang keluarga? Apa latar belakang pendidikan? Apa pengalaman bisnis sebelumnya?” Saya dan Leon tidak punya latar belakang impresif. Saya asal Pematangsiantar, dari keluarga biasa-biasa saja, sejak usia 18 tahun sudah harus kerja, menjaga warnet shift malam. Hanya lulusan Bina Nusantara, lebih tepatnya lulusan warnet, dan selama sepuluh tahun hanya kerja dari satu kerjaan ke kerjaan lainnya, tanpa pengalaman membangun bisnis sendiri.

Pada satu kesempatan kami sempat bertemu dengan salah seorang investor yang mengatakan kepada kami, “Janganlah kamu bermimpi terlalu muluk. Kamu bukan Steve Jobs, atau Bill Gates. Mereka adalah orang yang sangat spesial. Carilah hal yang lebih realistis, jangan buang waktu dan masa mudamu.”

Kesimpulan saya adalah Indonesia butuh sebuah role model. Karena belum ada nya kisah sukses, orang Indonesia seakan-akan tidak percaya dengan orang Indonesia lain nya bahwa mereka bisa berkarya. Menurut saya, ini adalah sesuatu yang sangat salah, dan kami berkomitmen bahwa satu hari nanti kami harus mengubah kondisi ini, membuktikan bahwa orang Indonesia bisa. Kamu tidak perlu lahir dari keluarga berada, berpendidikan luar negeri, atau punya pengalaman bisnis banyak, untuk melahirkan sebuah perusahaan yang memang berguna buat orang banyak.

Pada tahun 2009, bisnis SMS content semakin sulit dilakukan, demikian juga dengan SMS Broadcast, yang akhirnya Pak VF dan Ibu YF memutuskan untuk menutup bisnis tersebut. Kemudian pada tanggal 6 February 2009, saya dan Leon menandatangani sebuah surat. Surat tersebut adalah Akte Pendirian PT. Tokopedia dengan komitmen dana dari Pak VF dengan saham mayoritas untuk Indonusa Dwitama, parent company dari Indocom Group. Kami langsung mengambil kesempatan tersebut, dan siap untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kami.

Pada hari itu, di lantai 3 Rukan Permata Senayan E7 yang akan menjadi kantor PT. Tokopedia, hanya tersisa dua manusia, Leontinus Alpha Edison, dan William Tanuwijaya. Keduanya co-founder / direktur PT. Tokopedia, tanpa satu orang pegawaipun. Maka, perjalanan kami berikutnya pun dimulai. Sebuah misi mengumpulkan orang-orang dengan semangat yang sama untuk membantu kami mewujudkan sebuah mimpi, membangun Indonesia lebih baik lewat internet.

Bagikan Artikel