Semangat Bhinneka Tunggal Ika dari Ragam Batik Nusantara

46

Hari ini, 2 Oktober 2018, menandai sembilan tahun lamanya batik diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Sejak itu, batik telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Batik tidak lagi dianggap sebagai bagian budaya terbatas, melainkan menjelma sebagai sebuah budaya nasional yang berjalan beriringan dengan budaya modern yang dinamis.

Batik selalu menjadi bagian dari berbagai fase penting kehidupan masyarakat Indonesia, baik kelahiran, pernikahan, dan lain sebagainya. Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya dan keunikannya tersendiri yang bisa dilihat dari keragaman motif yang ada, menjadikan batik sebagai ciri khas sekaligus persamaan yang menyatukan budaya-budaya di Indonesia.

Batik dan Pemanfaatan Teknologi

Perkembangan batik saat ini tidak terlepas dari usaha banyak pihak untuk memperkenalkan batik ke khalayak luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Seiring dengan perkembangan teknologi dan maraknya platform e-commerce, masyarakat semakin dimudahkan untuk menjangkau para kreator lokal dan pembeli melalui wadah online yang disebut marketplace.

Ketika kreator lokal mulai bangkit mengembangkan diri, marketplace hadir menyediakan sarana untuk berjualan, mempertemukan penjual dan pembeli di seluruh Indonesia. Tokopedia sebagai marketplace terdepan di Indonesia, misalnya, saat ini menyediakan ratusan ribu ragam produk batik dari ribuan merchant (penjual) dari seluruh Indonesia.

Ratusan ribu produk Batik yang bisa ditemukan di marketplace Tokopedia

Angka penjualan batik di Tokopedia meningkat dengan sangat signifikan setiap tahunnya. Pertumbuhan penjualan batik per tahun di Tokopedia di 2018 tercatat meningkat sebesar 35x dari angka di 2014.

Data pertumbuhan penjualan Batik di Tokopedia. Sejak 2014, penjualan Batik per tahunnya telah bertumbuh hingga 35x di 2018.

Angka kontribusi provinsi terhadap penjualan Batik di Tokopedia di 2018.

Penjualan batik tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Menurut data yang dihimpun oleh Tokopedia, pada tahun ini terdapat 10 provinsi dengan jumlah penjualan batik terbanyak di Indonesia. Persebaran provinsi tersebut berasal dari tiga pulau besar di Indonesia yakni Jawa, Sumatera, dan Bali.

Kenaikan tersebut menunjukkan bagaimana keseriusan para kreator lokal dalam memproduksi batik diikuti dengan antusiasme masyarakat Indonesia dalam berbelanja batik. Melalui Tokopedia, kreator lokal mendapatkan kesempatan untuk menjual produk yang mereka miliki kepada khalayak yang lebih luas.

Ciptakan peluang melalui batik

Riko Saputro, seorang penjual di Tokopedia asal Kediri, misalnya, mengaku bahwa keberadaan marketplace sangat membantu perkembangan bisnis batik yang ia geluti. Melalui marketplace, pemilik toko Batik Nitnot ini berhasil membangkitkan usaha batiknya pada tahun 2009 setelah sebelumnya bangkrut pada tahun 2005.

Riko Saputro, pemilik Batik Nitnot, dapat menghidupkan kembali usahanya setelah berjualan di online marketplace

Marketplace sangat membantu saya dalam mengembangkan usaha. Kalau sebelumnya saya butuh modal banyak untuk menyewa toko, kini tidak lagi,” jelas Riko.

Peluang yang diciptakan marketplace juga dirasakan oleh Rufaidah Qisti. Pemilik toko batik “Khas Solo” di Tokopedia ini sejak tahun 2012 berhasil mempopulerkan kembali batik khas Solo. Tangan kreatif Rufaidah berhasil menciptakan beragam motif batik kontemporer Solo, menarik minat pembeli berusia muda.

Misalkan orang Solo kangen dengan batik Solo, bisa beli dari online. Nggak usah susah-susah lagi balik ke Solo buat beli langsung”, jelasnya.

Qisti mengaku, berkat online commerce, tidak ada lagi kendala usia untuk berkarya

Tak hanya membantu mengembangkan bisnis, keberadaan marketplace juga menyatukan banyak pihak dan melahirkan berbagai komunitas. Para penjual batik di berbagai daerah, misalnya, memiliki komunitas mereka sendiri dimana mereka dapat berkumpul dan saling berbagi pengalaman. Pada akhirnya batik tidak hanya menjadi sebuah komoditas, tetapi juga menjadi pemersatu identitas nasional.