Kebakaran Tidak Menghanguskan Semangat Pemilik 40 Ekor Kucing ini untuk Berkreasi

786

KARAWANG, 4 JUNI 2018 –  Tidak banyak orang tahu bahwa di balik etalase ‘Pet Carpet’ berisi foto kucing lucu berpose bersama produk yang dijual, ternyata ada sosok kreatif dan tangguh seperti Qori Soelaiman.  Dua kali mengalami kebakaran pabrik, Qori tidak berputus asa. Bebekal semangat yang membara, ia berhasil mengubah cobaan menjadi kesempatan untuk berbagi.

Reruntuhan bangunan dengan jejak api kehitaman yang menjalar di sana sini terlihat saat memasuki halaman tempat tinggal sekaligus pabrik Qori Solaeman, pecinta kucing sekaligus pemilik toko kebutuhan hewan peliharaan ‘Pet Carpet’ di Tokopedia. Dengan senyum mengembang ia berkata, “Inilah bekas pabrik yang saya dan suami miliki.”

Tidak tampak raut kesedihan ketika Qori menceritakan kebakaran pabrik yang menimpanya. Sambil bercengkrama dengan 40 ekor kucing kesayangannya, ia justru dengan santai bercerita mengenai kebakaran pabrik yang berujung pada lahirnya toko Pet Carpet yang saat ini tengah ia rintis.

Sebelum berwirausaha, Qori merupakan karyawan swasta yang bekerja di Bekasi. Setelah 16 tahun bekerja sejak SMA, ia mulai merasa lelah dan ingin memulai hidup yang baru. Apalagi saat itu kucing-kucing miliknya yang berjumlah belasan terus bertambah sehingga membutuhkan perawatan ekstra. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk pensiun dini dan mengikuti suaminya berwirausaha.

“Dulu saya kuliah sambil kerja di perusahaan kayu selama 16 tahun, tamat SMA langsung kerja. Jadi pagi-pagi berangkat kuliah, terus jam 3 sore kerja sampai malam,” cerita Qori.

Pada Maret tahun 2014 Qori dan suami menjual aset yang mereka miliki untuk memulai hidup baru di Karawang, Jawa Barat. Mereka membeli sebuah rumah di salah satu perumahan dan membangun pabrik penggilingan padi dan pengolahan dakron di pinggir kota.

Baru satu bulan pabrik tersebut berjalan, cobaan datang. Pabrik milik Qori disambar petir sehingga memicu kebakaran yang menghanguskan seluruh pabrik. Tidak tinggal diam, ia langsung mengambil langkah cepat untuk menjual rumah yang ia miliki agar bisa membangun kembali pabrik yang habis dilalap api.

Sejak saat itu Qori dan suami memboyong semua hewan peliharaannya untuk tinggal di mes pegawai yang berada di sebelah pabrik. Total ada sekitar 40 ekor kucing, satu ekor anjing, dan 12 ekor ayam.

Sayangnya, pabrik baru tersebut tidak bertahan lama. Pada tahun 2016, kebakaran kembali terulang, menghanguskan pabrik yang baru saja dibangun. “Tahun 2016 jam 3 malam anjing aku si Momogi gonggong-gonggong. Dia sampai nabrakin diri ke pagar. Pas aku keluar ternyata pabrikku kebakaran,” cerita Qori.

Ia masih ingat bagaimana ia berlari menyelamatkan kucing-kucingnya yang masih tidur di dalam rumah. Dengan masih mengenakan mukena, ia dibantu warga sekitar berlari menyiramkan air, mencoba memadamkan api.

“Jam delapan pagi, delapan karyawanku udah pada nangis, ‘Ibu kita kerja apa sekarang?’” kenang Qori.

Melihat Cobaan sebagai Kesempatan

Setelah api padam, Qori melihat masih ada dua ton bahan dakron yang selamat dari kebakaran.  Teringat pada acara peduli kucing yang akan ia datangi, Qori langsung berinisiatif untuk membuat tempat tidur kucing. Kebetulan, beberapa kali ia memang sempat membuat tempat tidur kucing, tetapi hanya untuk digunakan kucing-kucing miliknya saja, tidak untuk dijual. Hari itu juga ia dan beberapa karyawannya bahu membahu membuat tempat tidur kucing dengan memanfaatkan bahan dakron yang tidak terbakar.

Tak disangka, tempat tidur kucing yang dibuat oleh Qori habis terjual dalam acara peduli kucing, bahkan ia mendapatkan banyak pesanan dari para pemilik kucing yang tidak kebagian. Sejak saat itu, Qori memutuskan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan kucing dan hewan peliharaan lain. Beberapa produk yang ia buat antara lain tempat tidur, mainan kucing, dan lain sebagainya.

<<Kebakaran Tidak Menghanguskan Semangat Pemilik 40 Ekor Kucing ini untuk Berkreasi>>

Sebagai orang yang aktif di komunitas pecinta kucing, Qori sering berpartisipasi dalam acara-acara bertemakan kepedulian terhadap hewan peliharaan, khususnya kucing. Melalui acara-acara tersebut, Qori bisa langsung bertemu dengan para calon pembeli produknya.

Qori benar-benar serius dalam memproduksi semua produknya. Sebagai pemilik 40 ekor kucing, ia sangat mengerti tentang kebiasaan kucing, termasuk hal-hal yang disukai oleh kucing. Ia lantas menjadikan pengalaman yang ia miliki sebagai ilmu dasar dalam memproduksi. Tak jarang, ia mencoba prototype produk yang ia buat kepada kucing-kucingnya. Apabila kucingnya merasa nyaman dan senang dengan produk tersebut, barulah ia akan memproduksinya dalam jumlah banyak.

Ia juga memperluas usaha dengan membuat scarf, tas, dan barang-barang lain dengan corak kucing. Barang-barang ini biasanya dibeli oleh para pecinta kucing lainnya. Produk-produk Pet Carpet terkenal dengan corak kucingnya yang lucu sehingga seringkali dijadikan koleksi orang-orang yang menyukai kucing.

Merasa perlu memperluas penjualan, Qori pun membuka toko ‘Pet Carpet’ di Tokopedia. Melalui Tokopedia, Qori mengaku bisa memperluas pemasaran produknya. “Melalui Tokopedia saya jadi berkenalan dengan pecinta kucing lainnya. Produk saya jadi bisa dibeli oleh orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia.”

Cobaan tidak membuat Qori berhenti beramal. Selain mendedikasikan keuntungan Pet Carpet untuk merawat 40 ekor kucing miliknya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri, sebagian dari keuntungan tersebut juga ia berikan kepada Yayasan Peduli Kucing.

Donasi yang terkumpul selanjutnya digunakan untuk membantu membiayai shelter khusus kucing, terutama untuk membiayai kucing yang sakit. Selain itu juga digunakan untuk sterilisasi kucing-kucing liar yang ada di berbagai daerah. Ia dan teman-teman pecinta kucing lainnya juga seringkali membuat acara untuk meningkatkan kepedulian orang lain terhadap binatang peliharaan, khususnya kucing.

Melalui usaha yang dilakukan, Qori ingin mengingatkan orang lain untuk tidak berhenti berbagi, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk hidup lainnya. Cobaan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk berputus asa dan meratapi keadaan, tetapi justru kesempatan untuk bangkit dan memulai kehidupan yang lebih baik.