Perjalananku Kembali ke Kota Istimewa, Yogyakarta

18882

oleh Muhammad Febri Yonda Herjuno – Nakama Tokopedia

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
– KLA Project, Yogyakarta   –

Ada yang pernah mendengar penggalan lirik lagu tersebut? Ya, penggalan lirik lagu tersebut adalah lagu dari band lawas era 90an yaitu KLA Project dengan judulnya “Yogyakarta”. Lagu tersebut seakan mewakili perasaan saya (mungkin juga yang lainnya) dengan kota Yogyakarta. Kenapa demikian?

Karena menurut saya, bait per bait lagu tersebut dibuat secara jujur apa adanya terhadap kota Yogyakarta. Keramahannya, ketentramannya, dan efek rindu yang ditimbulkan itulah yang membuat kenapa saya selalu rindu, rindu dan rindu dengan kota ini.

Daerah Istimewa Yogyakarta atau yang biasa disingkat “DIY”, menjadi salah satu pusat budaya dari beberapa kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa. Yogyakarta dipimpin oleh seorang Gubernur yang bergelar Sultan dengan masa jabatan seumur hidup. Kota ini identik dengan pawai budaya yang begitu semarak, terutama pada hari-hari libur besar nasional.

Dulu setiap hari raya besar seperti Idul Fitri, saya bersama dengan keluarga selalu pulang kampung ke Jogja, atau bahasa jerman kerennya “mudik”. Saya begitu menyenangi sekaligus menikmati perjalanan mudik itu. Mulai dari pemandangan alam yang tidak ditemukan di kota, hingga macet yang sesekali menghampiri. Sebelum adanya jalan tol seperti jalan tol Cipali atau jalan tol Kanci, kami bisa menghabiskan waktu tempuh lebih dari 8 jam untuk bisa sampai di Jogja. Jalan yang belum begitu ramai, rawan (sekarang mungkin agak berkurang), dan banyaknya jalan berlubang yang membuat kami harus mengubah laju kendaraan menjadi sedikit pelan.

Liburan ke Yogyakarta
Saya ketika mencoba motorcross di Kaliurang | Sumber gambar: Dokumentasi pribadi penulis

Ada dua akses jalur yang dapat ditempuh menuju Yogyakarta, melalui jalur pantai utara atau pantai selatan. Kedua jalur ini memiliki favoritnya masing-masing lho. Kalau kamu ingin lebih cepat sampai, kamu bisa lewat jalur selatan. Namun kalau kamu ingin berjalan santai dengan menikmati angin pesisir, kamu bisa coba jalur utara.

Saya masih ingat sekitar 15 tahun yang lalu ketika kami sekeluarga berniat untuk melewati jalur utara. Jalur tersebut tepatnya di daerah Tegal, dulu masih dipenuhi dengan hutan rimbun dengan penerangan yang minim, tidak seperti sekarang dimana jalanannya sudah cukup ramai. Jalur selatan juga tidak kalah menarik kawan. Jalan yang berlubang, penerangan yang minim, dan barisan pohon karet di daerah Cilacap yang membuat sejuk selama perjalanan.

Tap Tap Mantap April | Pecahkan Telurnya

Hal yang unik adalah ketika kami sudah sampai di Gombong, Kabupaten Kebumen. Seolah menjadi tradisi, ayah, ibu dan saya sepakat untuk menepi sejenak membeli oleh-oleh. Apa yang khas dari kota ini? Yap, Lanting namanya. Bagi yang belum tahu, Lanting adalah sejenis makanan ringan menyerupai angka 8 dengan rasa asin yang gurih, ada yang berwarna putih dan juga merah.

Kami selalu membawa Lanting untuk dijadikan panganan untuk si mbah (nenek) di Jogja. Saya begitu merindukan saat-saat itu, terutama ketika pulang kampung dengan mereka. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut menjadi jarang lagi dilakukan, karena Tuhan begitu menyayangi ayah saya yaitu dengan memanggilnya pulang kembali ke sisi-Nya.

Liburam ke Yogyakarta
Istirahat sejenak di simbol ikonik Tugu Jogja | Sumber gambar: Dokumentasi pribadi penulis

Baca juga: 17 Tempat Nongkrong Di Yogyakarta Instagramable

Mengapa dikatakan istimewa?

Ada hal menarik yang sempat menjadi pertanyaan, kenapa sih Yogyakarta dikatakan sebagai Daerah Istimewa? Memangnya, apa yang menjadi alasan kota ini dikatakan demikian? Dari sejarahnya, ada beberapa hal mengapa Yogyakarta disebut sebagai Daerah Istimewa. Sebelum bergabung dengan Negara kesatuan Republik Indonesia, Yogyakarta memiliki sistem pemerintahan berbentuk kerajaan, yaitu Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat dan Pakualaman, dimana kebudayaan sistem pemerintahan kerajaan masih melekat pada masyarakat ataupun aparat di pemerintahan Yogyakarta hingga saat ini.

Jadi, ketika Indonesia diproklamasikan sebagai suatu negara merdeka oleh bapak Proklamator yaitu Bung Karno dan Bung Hatta, kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia termasuk kerajaan Yogyakarta, bisa saja melepaskan diri dari NKRI. Namun Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII memberikan dukungan terhadap NKRI dan dalam amanat yang ditandatangani Sri Sultan bersama Paku Alam menyatakan “Bahwa Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.”

Isi lain dari amanat Sri Sultan tersebut adalah: “Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja kamipegang seluruhnya.” Oleh karena hal tersebutlah mengapa Yogyakarta memiliki sebutan Daerah Istimewa.

Baca juga: Kalibiru, Berfoto di Atas Awan Yogyakarta

Ya, seperti itulah kisah saya dengan kota Jogja yang membuat saya seolah-olah kecanduan dan selalu ingin kesana untuk melepas penat. Kalau kamu?

tiket kereta api

Bagikan Artikel