Buku Klasik Filosofi Hidup ala Jepang: Kehampaan & Filsafat Teh [Paket Is 2 Buku]
1/
Judul: Filsafat Teh: Kesederhanaan sebagai Laku Hidup dan Teaisme Jepang
Pengarang: Kakuzo Okakura
Penerjemah: Daniel
Penerbit: Basabasi
Tebal: 100 hlm.
Jenis Cover: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Tahun: 2026 (Agustus)
Ukuran: 14x20 (cm)
2/
Judul: Kehampaan: Anekdot dan Renungan Buddhis pada Era Klasik Jepang
Pengarang: Yoshida Kenkō
Penerjemah: Daniel
Penerbit: Basabasi
ISBN: 978-623-305-558-1
Tebal: 190 hlm.
Jenis Cover: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Tahun: 2026 (Juli)
Ukuran: 14x20 (cm)
SINOPSIS
The Book of Tea karya Kakuzō Okakura merupakan sebuah esai filsafat dan kebudayaan yang menggunakan tradisi minum teh di Jepang sebagai pintu masuk untuk menjelaskan pandangan hidup Timur. Okakura menekankan bahwa Teisme (Teaisme) tidak cuma kebiasaan minum teh. Lebih dari itu, ia merupakan suatu filsafat estetika yang menjunjung kesederhanaan, keharmonisan, kerendahan hati, dan kesadaran akan keindahan dalam hal-hal kecil. Melalui upacara teh, manusia seperti diajak untuk hidup selaras dengan alam, menghargai keheningan, serta menemukan makna spiritual dalam tindakan sehari-hari.
Buku ini juga mengulas hubungan antara seni, Zen Buddhisme, Taoisme, dan etika Jepang. Okakura menunjukkan bahwa seni Timur tidak melulu mengejar kesempurnaan, tapi justru berfokus pada menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahan (wabi-sabi). Ruang kosong, kesunyian, dan ketidakterucapan dianggap memiliki nilai estetis yang tinggi. Upacara teh dipandang sebagai penggabungan dari berbagai cabang seni, termasuk arsitektur, keramik, kaligrafi, dan tata taman, yang semuanya diarahkan untuk menciptakan pengalaman kontemplatif dan harmonis.
*
SINOPSIS Kehampaan
Kehampaan ditulis sekitar tahun 1330 oleh seorang biksu Buddha, Yoshida Kenkō. Karya ini terdiri dari 243 esai yang saling terkait secara longgar, seringkali terfragmentasi, berfokus pada ketidakabadian dan apresiasi terhadap ketidaksempurnaan (wabi-sabi).
Dengan memakai landasan Buddhis, Kenkō berpendapat bahwa segala sesuatu lebih indah ketika tidak dalam kesempurnaan penuh, seperti bulan yang sebagian tertutup awan atau bunga sakura yang berguguran. Kenkō lebih memuji kesederhanaan, hal-hal yang tua dan lapuk, daripada yang baru atau mewah. Ia menekankan secara tersirat tentang nilai-nilai pelepasan diri, sesuatu yang beririsan dengan Stoikisme Barat.
Ditulis dengan gaya intuitif dan anekdotal, buku ini menggerakkan pembaca dari refleksi puitis ke kritik tajam, seringkali humoris, terhadap kebodohan manusia hanya dalam beberapa kalimat. Meskipun ditulis pada abad ke-14, kritikus memandang tulisan-tulisan dalam buku ini bersifat kontemporer karena berfokus pada kebiasaan sehari-hari, kecanggungan sosial, dan apresiasi terhadap momen-momen kecil dalam hidup.
Esai-esai dalam Kehampaan adalah salah satu dari tiga karya zuihitsu utama dalam sastra Jepang, bersama dengan The Pillow Book dan Hōjōki.