Atur jumlah dan catatan
Stok Total: 124
harga sebelum diskonRp99.000
Subtotal
Rp87.120
[Bentang] Buku Non Fiksi | Gelandangan di Kampung Sendiri - Emha Ainun Nadjib
Rp87.120
diskon 12%
Harga sebelum diskon Rp99.000
Buku Original Bentang Pustaka
Kover: softcover
Format: 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman: 300
Jenis Kertas Isi: Bookpaper 55 gr
Jenis Kertas Sampul: Art Carton 230 gr
Sinopsis Produk
Rasa-rasanya, para pejabat sering salah sangka terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Mereka menyangka bahwa mereka adalah atasan rakyat, sementara rakyat mereka kira bawahan. Mereka merasa tinggi dan rakyat itu rendah. Maka, mereka merasa sah dan tidak berdosa kalau memaksakan kehendak mereka atas rakyat. Mereka membuat peraturan untuk mengatur rakyat karena merasa merekalah yang berhak membuat peraturan. Rakyat hanya punya kewajiban untuk menaatinya.
Inilah tatanan dunia yang dibolak-balik. Bukankah hak atas segala aturan berada di tangan rakyat? Kalau rakyat tidak setuju, itu berarti bos tidak setuju. Hamba sahaya harus punya telinga selebar mungkin untuk mendengarkan apa kata juragannya. Maka menjadi aneh jika rakyat terus menerus diwajibkan berpartisipasi dalam pembangunan. Karena rakyatlah pemilik pembangunan.
Keterangan tentang Kaver
Ilustrasi tabung gas berwarna putih cemerlang menunjukkan ironi yang kerap terjadi di negeri ini. Bentuknya yang menyerupai gas melon 3 kg melambangkan kaum miskin, sesuai peruntukan penjualan gas tersebut. Warnanya yang putih bak porselen menunjukkan betapa negara kerap menggunakan slogan-slogan populis dan mengeluarkan kebijakan yang membantu kaum miskin sehingga terlihat indah. Padahal, pada saat bersamaan negara juga mengeluarkan kebijakan yang mempersulit kaum miskin, terlihat pada ilustrasi orang-orang berderet mengantre.
Tentang Penulis
EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka.
Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985).
Cukup banyak dari karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991).
Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Kiai Hologram (2018), Pemimpin yang Tuhan (2018), Markesot Belajar Ngaji (2019), Siapa Sebenarnya Markesot? (2019), Sinau Bareng Markesot (2019), Lockdown 309 Tahun (2020), Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar (2020), Indonesia Bagian dari Desa Saya (2020), dan Mbah Nun Bertutur (2021).
Keunggulan
- Gaya bertutur yang puitis dan indah
- Menggunakan pendekatan spiritual dan kultural
- Kritik yang disampaikan lugas namun santun
- Isu yang disampaikan memiliki kedekatan dengan realitas rakyat kecil
Kover: softcover
Format: 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman: 300
Jenis Kertas Isi: Bookpaper 55 gr
Jenis Kertas Sampul: Art Carton 230 gr
Sinopsis Produk
Rasa-rasanya, para pejabat sering salah sangka terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Mereka menyangka bahwa mereka adalah atasan rakyat, sementara rakyat mereka kira bawahan. Mereka merasa tinggi dan rakyat itu rendah. Maka, mereka merasa sah dan tidak berdosa kalau memaksakan kehendak mereka atas rakyat. Mereka membuat peraturan untuk mengatur rakyat karena merasa merekalah yang berhak membuat peraturan. Rakyat hanya punya kewajiban untuk menaatinya.
Inilah tatanan dunia yang dibolak-balik. Bukankah hak atas segala aturan berada di tangan rakyat? Kalau rakyat tidak setuju, itu berarti bos tidak setuju. Hamba sahaya harus punya telinga selebar mungkin untuk mendengarkan apa kata juragannya. Maka menjadi aneh jika rakyat terus menerus diwajibkan berpartisipasi dalam pembangunan. Karena rakyatlah pemilik pembangunan.
Keterangan tentang Kaver
Ilustrasi tabung gas berwarna putih cemerlang menunjukkan ironi yang kerap terjadi di negeri ini. Bentuknya yang menyerupai gas melon 3 kg melambangkan kaum miskin, sesuai peruntukan penjualan gas tersebut. Warnanya yang putih bak porselen menunjukkan betapa negara kerap menggunakan slogan-slogan populis dan mengeluarkan kebijakan yang membantu kaum miskin sehingga terlihat indah. Padahal, pada saat bersamaan negara juga mengeluarkan kebijakan yang mempersulit kaum miskin, terlihat pada ilustrasi orang-orang berderet mengantre.
Tentang Penulis
EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka.
Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985).
Cukup banyak dari karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991).
Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Kiai Hologram (2018), Pemimpin yang Tuhan (2018), Markesot Belajar Ngaji (2019), Siapa Sebenarnya Markesot? (2019), Sinau Bareng Markesot (2019), Lockdown 309 Tahun (2020), Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar (2020), Indonesia Bagian dari Desa Saya (2020), dan Mbah Nun Bertutur (2021).
Keunggulan
- Gaya bertutur yang puitis dan indah
- Menggunakan pendekatan spiritual dan kultural
- Kritik yang disampaikan lugas namun santun
- Isu yang disampaikan memiliki kedekatan dengan realitas rakyat kecil
Ada masalah dengan produk ini?
ULASAN PEMBELI

Belum ada ulasan untuk produk ini
Beli produk ini dan jadilah yang pertama memberikan ulasan