Tafsir Falsafi:
Buku ini menyajikan sekumpulan tafsir Ibn Sînâ yang telah disunting secara ilmiah: Tafsir surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, al-A’la, tafsir Ayat Cahaya, tafsir Ayat Istiwa, dan tafsir potongan huruf-huruf Hijaiah yang membuka beberapa surah Al-Qur’an.
Melalui tafsir Al-Qur’an, Ibn Sînâ menyampaikan pandangan filosofisnya, mulai dari ketuhanan (sang Asas Pertama [al-mabda’ al-awwal] atau sang Niscaya Ada [al-wâjib al-wujûd] atau sang Sebab Pertama [al-‘illah al-ûlâ] dan proses kemunculan makhluk dari-Nya), kenabian, jiwa manusia, kada, dan takdir hingga eskatologi.
Terungkap Ibn Sînâ memberikan perhatian besar kepada maqashid Al-Qur’an (ketuhanan, kenabian, eskatologi). Menurutnya, menyibukkan diri dalam tafsir dengan selain tiga pokok ini adalah sia-sia. Yang tak kalah menariknya, buku ini juga menyingkapkan metode Ibn Sînâ dalam memahami Al-Qur’an dan sumbangannya yang masih jarang dikenal di bidang tafsir. Sebuah kajian yang penting, mendalam, dan langka.
Diterjemahkan oleh Wawan Kurniawan, M.Ag.
Tafsir Sufi:
Di tangan Anda ini adalah buku tafsir sufi atau isyâri. Apa itu tafsir isyâri?
Setidaknya ada tiga cara ulama memahami makna dan pesan ayat-ayat Al-Qur’an: tafsir bi al-ma’tsur (dengan merujuk ke riwayat), tafsir bi ar-ra’y (dengan menggunakan nalar), dan tafsir isyâri.
Dalam tafsir isyâri, makna dan pesan ayat Al-Qur’an tidak didapatkan dari teks ayat, tetapi dari kesan yang muncul dari teks ayat dan ditangkap oleh benak penafsir yang memiliki kecerahan hati dan pikiran. Penafsiran semacam ini banyak dilahirkan oleh para sufi/arif yang memiliki kebersihan dan ketulusan hati. Karena itu, tafsir ini juga dinamai tafsir shûfi.
Nah, dalam buku ini, Anda akan melihat bagaimana para ulama-sufi menafsir ayat-ayat Al-Qur’an. Mulai dari Dzun Nun al-Mishri, Hasan al-Bashri, Imam Ja‘far ash-Shadiq, asy-Syibli, Syaqiq al-Balkhi, al-Qusyairi, Ibnu ‘Arabi, hingga al-Hallaj, dan masih banyak tokoh lain. Anda akan melihat contoh praktis tafsir isyâri.
Satu ayat pilihan akan ditafsiri secara isyâri oleh sekian ulama-sufi. Sehingga dalam satu ayat terdapat beragam penafsiran isyâri. Keragaman tersebut menjadikan satu ayat kaya makna. Kekayaan penafsiran isyâri itu pada gilirannya memperkaya lagi makna dan penafsiran yang sudah ada.