IRCiSoD - Bundling Menggugat Pendidikan; Dari Aktivitas Subversif hingga Redefinisi Nilai Sekolah - Neil Postman & C. Weingartner - Mengajar Sebagai Aktivitas Subversif
Rp72.000
diskon 20%
Harga sebelum diskon Rp90.000
Pilih edisi: Mengajar Sebagai Aktivitas Subversif
Judul: Mengajar Sebagai Aktivitas Subversif: Filosofi Pendidikan yang Membebaskan Penulis: Neil Postman & C. Weingartner Penerjemah: Siti Farida Penyunting: Adhe Penerbit: IRCiSoD Tahun: 2025 Bahasa: Indonesia Tebal: 402 hlm. Dimensi: 14x20 cm
Judul: Matinya Pendidikan: Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah Penulis: Neil Postman Penerjemah: Siti Farida Penyunting: Adhe Penerbit: IRCiSoD Tahun: 2025 Bahasa: Indonesia Tebal: 306 hlm. Dimensi: 14x20 cm Bundling ini mengajak pembaca menyelami dua karya penting Neil Postman yang mengupas pendidikan dari sudut pandang kritis dan filosofis, menantang paradigma lama demi membangun pendidikan yang benar-benar membebaskan dan bermakna.
Dimulai dengan Mengajar Sebagai Aktivitas Subversif: Filosofi Pendidikan yang Membebaskan, Postman bersama C. Weingartner mengajukan gagasan revolusioner bahwa mengajar sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan tindakan subversif yang membebaskan pikiran. Mereka menantang pendidik untuk tidak menjadi alat reproduksi nilai-nilai konservatif yang membatasi kritisisme dan kreativitas siswa. Buku ini menggugah kesadaran bahwa proses pembelajaran harus membebaskan individu melalui dialog dan eksplorasi, memfasilitasi siswa menjadi agen perubahan yang mampu mempertanyakan dan membentuk dunia di sekitar mereka.
Berlanjut ke Matinya Pendidikan: Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah, Postman melanjutkan kritik tajam terhadap sistem pendidikan modern yang dianggapnya kehilangan arah dan tujuan sebenarnya. Ia menyoroti bagaimana sekolah sering kali mengandung nilai-nilai yang ketinggalan zaman, membatasi pemikiran kritis, dan lebih menekankan kepatuhan serta konformitas daripada pembebasan intelektual. Buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali nilai-nilai fundamental pendidikan dan mencari makna baru yang relevan dengan tantangan zaman, agar sekolah dapat menjadi tempat pembebasan, bukan penjara budaya.
Kedua karya ini, jika dibaca berurutan, membentuk dialog konseptual yang kuat—dari mengajar yang membebaskan dan menantang dominasi pemikiran, hingga refleksi mendalam tentang kegagalan besar pendidikan formal saat ini. Postman membuka wawasan tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi alat revolusi intelektual yang sesungguhnya, mengajak setiap pendidik dan pembelajar untuk berani menggugat dan merevolusi cara berpikir dan proses belajar demi masa depan yang lebih bermakna.