Dafatir Sulthaniyah ini dirancang mewah, namun tidak berat. Full color dengan kertas HVS 80 gr, lengkap dengan gambar-gambar pendukung, serta soft cover berisi 158 halaman yang bisa dihabiskan hanya dalam beberapa kali duduk. Buku ini adalah buku arsip pilihan yang mampu membuat kita tercengang, mengernyitkan dahi, dan menarik napas panjang. Sebagaimana sub judulnya, ia menguak bukti loyalitas muslimin Jawi kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah, yang mayoritasnya diungkapkan melalui surat – sebagai alat komunikasi utama kepada para penguasa saat itu. Dafatir Sulthaniyah sendiri adalah istilah yang dilontarkan Sultan ‘Ala’uddin Manshur Syah, penguasa Aceh di pertengahan abad ke-19, untuk merujuk kepada “Arsip Kesultanan” yang pernah dimiliki negaranya. Menurut penuturannya – sebagaimana yang akan kita saksikan dalam buku, Dafatir Sulthaniyah atau Arsip Kesultanan milik Aceh mencatat akurat bagaimana awal mula pendiri-pendiri kesultanannya menghaturkan janji setia untuk taat (bay’at tha’at) kepada Khalifah Selim II di abad ke-16. Bahkan tidak hanya para sultan yang ada di Aceh; sultan-sultan, kaum ulama, hulubalang, jawara, sampai rakyat jelata sekepulauan Jawi pun pernah menulis suratnya kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah, dengan pernyataan baiat melalui tulisan (al-bay’ah bi’l-kitabah). Cakupan negeri Jawi dalam buku ini juga luas, melampau garis teritorial ciptaan penjajah Eropa; sehingga loyalitas kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah bisa kita temui di wilayah yang hari ini dikenal sebagai Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand, hingga Filipina.