Sepintar apa pun seseorang, namun ia tidak memiliki adab, gugurlah nilai semua pengetahuannya; tak dapat dijadikan rujukan, takkan pula memproduksi kebaikan-kebaikan. Bahkan amal-amal ibadahnya pun tak bernilai apa-apa bila tidak dihiasi dengan adab. Hal ini karena adab merupakan pondasi agama. Aku diutus hanya untuk memperbaiki adab-adab (yang baik), sabda Kanjeng Nabi Saw.
Tentang pentingnya adab sebelum ilmu, Abdurrahman bin al-Qasim sampai-sampai 18 tahun mempelajari masalah-masalah adab, dan hanya 2 tahun mempelajari ilmu lainnya. Ibnu al-Mubarak merelakan waktunya 30 tahun untuk mendalami adab-adab. Dan demikianlah ulama-ulama terdahulu lainnya, lebih mendahulukan adab daripada ilmu.
Buku ini merupakan salah satu karya terbaik Imam Nawawi yang menjadi rujukan utama tentang pentingnya mendahulukan adab daripada ilmu pengetahuan lainnya. Tidak hanya bagi peserta didik, namun juga bagi tenaga pendidik sekaligus. Tentu saja, keberadaan buku semacam ini teramat penting di zaman sekarang, di mana banyak orang telah meninggalkan proses belajar dari dada ke dada, dan beralih ke proses belajar dari kuota data ke kuota data lainnya.
Judul : Adab di Atas Ilmu: Tuntunan Belajar Mengajar yang Barakah (Adabul 'Alim Wal Muta'allim)
Penulis : Imam Nawawi
Penerjemah : Hijrian A. Prihantoro, Lc., L.L.M.
Ukuran : 14 x 20 cm
Halaman : 200 hlm
ISBN : 978-623-293-165-7
Ilmu yang tidak dihiasi adab (akhlak mulia) pastilah akan mendatangkan bencana dan malapetaka atas pemiliknya maupun terhadap orang lain. Ia rentan disergap kesombongan dan perilaku semena-mena. Alangkah alimnya Iblis, tapi ia dihempaskan juga dari surga lantaran kecerdasan intelektualnya kering dari akhlak mulia. Masih banyak lagi contohnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa ternyata kepintaran yang menjulang langit sungguhlah tidak ada nilainya apa-apa bila tidak dibingkai dengan akhlak mulia.
Saking agungnya adab di atas ilmu, sampai-sampai Imam asy-Syafi’i menuturkan dengan nada gemetar, “Aku sangat berhati-hati membuka lembaran kitab di hadapan guruku (Imam Malik) lantaran khawatir bila bunyi kitabku terdengar dan mengganggunya.” Pernyataan ini menandaskan bahwa keberkahan ilmu itu terletak pada diri murid yang beradab dalam berinteraksi dengan gurunya.
Nah, buku ini ditulis oleh Imam Nawawi dalam rangka menegaskan perihal pentingnya mendahulukan adab di atas segala-galanya dalam proses belajar mengajar al-Qur’an ataupun lainnya. Tidak hanya untuk murid, adab-adab yang disebutkan di dalam buku ini juga untuk para guru dalam mengajar. Tujuannya, agar murid dan guru tersebut lebih mudah menuai lapis-lapis keberkahan untuk kemaslahatan di dunia ini dan di akhirat nanti. Amin.
Selamat membaca!
Judul : Adab di Atas Ilmu 2: Panduan Belajar Mengajar Al-Qur'an yang Barakah (At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur'an)
Penulis : Imam Nawawi
Penerjemah : Rusdianto
Ukuran : 14 x 20 cm
Halaman : 264 hlm
ISBN : 978-623-293-711-6
Jika diibaratkan, adab ibarat tombak utama dalam mencari ilmu. Tanpa adab, ilmu seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak berguna karena tidak bisa diterapkan dengan cara yang baik.
Saking pentingnya adab, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan, “Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis lebih tinggi ilmunya daripada manusia.” Pernyataan ini tentu menandaskan bahwa seseorang harus mengutamakan adab di atas ilmu.
Nah, buku ini ditulis oleh Imam az-Zarnuji, seorang ulama terkenal dari Zarnuj (sekarang Afghanistan). Buku ini memuat berbagai adab dalam mencari ilmu, khususnya ilmu-ilmu agama. Selain itu, buku ini juga memuat berbagai tips dan cara praktis untuk menimba ilmu yang berlimpah berkah.
Selamat membaca!
Judul : Adab di Atas Ilmu 3: Jalan Keberkahan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (Ta'lim Al-Muta'allim Thariq At-Ta'allum)
Penulis : Imam Az-Zarnuji
Penerjemah : Aldi Hidayat
Ukuran : 14 x 20 cm
Halaman : 120 hlm
ISBN : 978-623-293-730-7