Penulis : Himawan Prasetyo Tebal : 98 hlm Ukuran : 15,5 x 23 cm Penerbit : Pustaka Kita Deskripsi : Kauman adalah nama sebuah kampung di kota Surakarta yang memiliki ciri-ciri khusus. Ciri-ciri khusus ini tampak dalam kehidupan masyarakatnya, pergeseran dan perubahan sosial yang terjadi di dalamnya. Komunitas atau masyarakat Kauman merupakan masyarakat yang anggotanya mempunyai pertalian darah. Bentuk masyarakat seperti itu mempunyai ikatan yang erat dan tertutup sehingga setiap warga harus menegakkan ikatan bersama baik dalam upacara-upacara perkawinan maupun dalam upacara keagamaan. Penguasa Jawa menjadikan Islam sebagai agama negara dengan membangun sebuah masjid di sebelah barat alun-alun yang terletak di depan keraton, seperti yang kita lihat di kota Surakarta. Kampung Kauman mempunyai reputasi historis sebagai pemukiman Islam sejak masa-masa kebangkitan awal Keraton Surakarta, yaitu sebagai komunitas pejabat keagamaan Islam kerajaan. Mereka yang berdomisili adalah para abdi dalem yang bertugas mengawasi dan melaksanakan hukum-hukum dan praktik-praktik peribadatan Islam kerajaan. Kauman menjadi tempat lahir batik cap. Pertama kali dipraktikkan oleh Ngabei Resodipo Djiwangono. Walaupun pada mulanya banyak karya yang dirahasiakan tapi ternyata rahasia itu segera terbongkar karena banyak bekas buruh yang membuka usaha batik dengan menggunakan teknik tersebut. Penemuan baru ini segera dapat ditiru dan disebarkan ke seantero kota diantaranya pada bagian timur kota seperti di Sorogenen dan Warungpelem. Kauman juga merupakan pusat pergerakan kaum muda Islam Surakarta selain Laweyan dan Keprabon. Dengan munculnya Sarekat Islam tahun 1912 di Laweyan banyak kaum muda Islam yang menyalurkan aspirasinya dalam organisasi masa ini terutama pemuda Islam di Kauman. Mereka banyak ikut dalam berbagai organisasi seperti SI, SATV, Muhammadiyah serta Insulinde. SATV(Sidik Amanah Tableg Vatonah) merupakan perkumpulan tablig Islam reformis yang dibentuk Darmodiprono alias Ha