Arsitektur Karo tidak sederhana. Tektonika arsitektur, sistem sosial, dan kekerabatan dalam merga (puak) serta wacana linguistik dalam pembentukan arsitekturnya saling berkelindan. Demikian pula faktor eksternal yang semula menjadi daya dukungnya hingga modernisasi menyebabkan keberadaan arsitektur Karo dilematis. bebangunan karya masyarakat Karo itu hadir dengan segala kemegahannya. Sosoknya tinggi besar dalam proporsi dan skala seolah menjadi penyeimbang Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang gagah melatarbelakanginya. Begitu pula corak ragam hias dan simbol - simbol adatnya sedemikan seronok menandai keistimewaan mereka dan sekaligus menarik perhatian bagi yang mengamatinya.