Atur jumlah dan catatan
Stok Total: 20
harga sebelum diskonRp135.000
Subtotal
Rp128.250
Buku Sastra, Subjek, dan Konstruksi Asimetris - Nadhila Hibatul Nastikaputri, dkk. - Gambang
Rp128.250
diskon 5%
Harga sebelum diskon Rp135.000
Sastra, Subjek, dan Konstruksi Asimetris
Penulis : Nadhila Hibatul Nastikaputri, dkk.
Penerbit : Gambang
Tahun : 2022
Tebal : x+223 halaman
Buku baru, original, dan bersegel
Harga : Rp. 135.000
Sinopsis :
Idealitas (kehidupan) sejatinya tidak pernah ada. Subjek selalu berjalan di atas ketidakpastian, dan pada posisi tertentu ia dikonstruksi, berkontestasi, dan bergerak atas ketidakpastian itu. Hal inilah yang membawa subjek berada dalam sumbu-sumbu asimetris.
Tulisan-tulisan dalam buku ini secara keseluruhan bermuara pada perbincangan mengenai persubjekan. Perbincangan tersebut secara tidak langsung memiliki titik temu dan menjadi tema besar buku ini. Subjek-subjek dalam buku ini dibicarakan secara beragam, atau dengan kata lain dalam cakupan yang asimetris. Konstruksi asimetris adalah bangunan ataupun satuan struktur yang tidak setangkup, multiperspektif, multi-situasional, dan multi-kontekstual.
Subjek (manusia), di satu sisi, dalam posisi yang mapan bukan barang-tentu kemapanan adalah kondisi final yang ada pada dirinya. Kemapanan memungkinkan terbukanya kondisi atau situasi yang tidak diharapkan oleh subjek (manusia). Subjek (anak) yang digambarkan pada cerpen “Anak Perempuan yang Kululuskan” pada artikel pertama misalnya, menjadi subjek yang merombak, mendobrak, dan melintasi batas kemapanan. Ikhtiar kedua orang tua untuk saling bersaing memenuhi kasih sayang kepada si anak ternyata menjadi kegagalan sintesis yang membuka kemungkinan terjadinya hal lebih buruk kepada si anak.
Di sisi yang lain, manusia sebagaimana yang disebutkan oleh Žižek (1994) menjadi subjek yang selalu berada di kondisi kurang (lack) sehingga terus menghasrati sesuatu yang diinginkannya. Kekuatan imajiner manusia inilah terpicu oleh benturan rasionalitas dan emosionalitas dari dalam dirinya. Manusia, secara sadar ataupun tidak, terus menerus tergerus dalam pusaran simbolitas yang ia hasrati, atau menahan diri dan mencapai otentisitas. Sebab itu, dapat dikatakan bahwa subjek selalu berjalan pada ketidakpastian, dan ketidakpastian pada akhirnya menjadi suatu keniscayaan.
Apabila Berger (1990) pernah menyatakan bahwa keberhasilan sosialisasi sangat bergantung pada simetri antara dunia (objektif) masyarakat dan dunia (subjektif) individu, dan kegagalan sosialisasi terletak pada asimetri di antara keduanya. Kenyataannya kita perlu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang kerap terjadi bahwa sosialisasi total tidak akan pernah ada, atau tidak mungkin ada.
Konstruksi asimetri sering melingkupi kehidupan subjek (manusia), dan kehidupan manusia sejatinya selalu dinamis, berubah-ubah. Di lain sisi, masih ada tatanan-tatanan secara simbolis, politis, ataupun sosial mencoba mengatur, membagi, dan menempatkan diri manusia pada partikular-partikular yang tidak seimbang.
Penulis : Nadhila Hibatul Nastikaputri, dkk.
Penerbit : Gambang
Tahun : 2022
Tebal : x+223 halaman
Buku baru, original, dan bersegel
Harga : Rp. 135.000
Sinopsis :
Idealitas (kehidupan) sejatinya tidak pernah ada. Subjek selalu berjalan di atas ketidakpastian, dan pada posisi tertentu ia dikonstruksi, berkontestasi, dan bergerak atas ketidakpastian itu. Hal inilah yang membawa subjek berada dalam sumbu-sumbu asimetris.
Tulisan-tulisan dalam buku ini secara keseluruhan bermuara pada perbincangan mengenai persubjekan. Perbincangan tersebut secara tidak langsung memiliki titik temu dan menjadi tema besar buku ini. Subjek-subjek dalam buku ini dibicarakan secara beragam, atau dengan kata lain dalam cakupan yang asimetris. Konstruksi asimetris adalah bangunan ataupun satuan struktur yang tidak setangkup, multiperspektif, multi-situasional, dan multi-kontekstual.
Subjek (manusia), di satu sisi, dalam posisi yang mapan bukan barang-tentu kemapanan adalah kondisi final yang ada pada dirinya. Kemapanan memungkinkan terbukanya kondisi atau situasi yang tidak diharapkan oleh subjek (manusia). Subjek (anak) yang digambarkan pada cerpen “Anak Perempuan yang Kululuskan” pada artikel pertama misalnya, menjadi subjek yang merombak, mendobrak, dan melintasi batas kemapanan. Ikhtiar kedua orang tua untuk saling bersaing memenuhi kasih sayang kepada si anak ternyata menjadi kegagalan sintesis yang membuka kemungkinan terjadinya hal lebih buruk kepada si anak.
Di sisi yang lain, manusia sebagaimana yang disebutkan oleh Žižek (1994) menjadi subjek yang selalu berada di kondisi kurang (lack) sehingga terus menghasrati sesuatu yang diinginkannya. Kekuatan imajiner manusia inilah terpicu oleh benturan rasionalitas dan emosionalitas dari dalam dirinya. Manusia, secara sadar ataupun tidak, terus menerus tergerus dalam pusaran simbolitas yang ia hasrati, atau menahan diri dan mencapai otentisitas. Sebab itu, dapat dikatakan bahwa subjek selalu berjalan pada ketidakpastian, dan ketidakpastian pada akhirnya menjadi suatu keniscayaan.
Apabila Berger (1990) pernah menyatakan bahwa keberhasilan sosialisasi sangat bergantung pada simetri antara dunia (objektif) masyarakat dan dunia (subjektif) individu, dan kegagalan sosialisasi terletak pada asimetri di antara keduanya. Kenyataannya kita perlu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang kerap terjadi bahwa sosialisasi total tidak akan pernah ada, atau tidak mungkin ada.
Konstruksi asimetri sering melingkupi kehidupan subjek (manusia), dan kehidupan manusia sejatinya selalu dinamis, berubah-ubah. Di lain sisi, masih ada tatanan-tatanan secara simbolis, politis, ataupun sosial mencoba mengatur, membagi, dan menempatkan diri manusia pada partikular-partikular yang tidak seimbang.
Ada masalah dengan produk ini?
ULASAN PEMBELI

Belum ada ulasan untuk produk ini
Beli produk ini dan jadilah yang pertama memberikan ulasan