Download Tokopedia App
Tentang TokopediaMulai Berjualan PromoTokopedia Care
tokopedia-logo
Kategori
Atur jumlah dan catatan

Stok Total: Sisa 3

Subtotal

Rp95.000

Ragam Ritual Jawa Tradisi sebagai Warisan Spiritual dan Sosial Edisi 1

Rp95.000
    Penulis: Intan Saharani, dkk. .


    Editor: Riza Zahriyal Falah

    Tata Letak dan Sampul: Tim Sinar Jaya Mandiri Kudus

    Cetakan I: Januari 2025



    Sinopsis

    Sinopsis Buku

    Ragam Ritual Jawa: Tradisi sebagai Warisan Spiritual dan Sosial

    Buku ini menyajikan serangkaian kajian mendalam tentang berbagai tradisi lokal yang masih dilestarikan di beberapa desa di Jawa Tengah, terutama di wilayah Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, dan Demak. Setiap bab membahas tradisi-tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat setempat dan mencerminkan nilai-nilai budaya, religius, serta sosial yang dijaga turun-temurun. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk memahami kekayaan tradisi, filosofi yang melatarbelakanginya, serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Berbagai tradisi ini menunjukkan adanya harmonisasi antara agama Islam dan kebudayaan lokal, serta fungsi-fungsi sosial dan spiritual yang melingkupinya.

    Bagian pertama dari buku ini membahas "Tradisi Mubeng Punden di Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati." Dalam bab ini, disampaikan informasi tentang profil Desa Kuryokalangan dan sejarahnya. Tradisi Mubeng Punden memiliki akar yang dalam dalam kehidupan masyarakat desa. Mubeng Punden adalah tradisi berkeliling punden atau makam leluhur yang diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang. Pembahasan dalam bab ini mencakup asal-usul tradisi tersebut, pelaksanaan ritual, serta pandangan warga terhadap tradisi ini. Selain itu, diuraikan juga tujuan tradisi ini, terutama terkait dengan pernikahan dan keyakinan masyarakat terhadap restu leluhur. Tradisi Mubeng Punden juga memiliki berbagai manfaat, baik secara spiritual maupun sosial, seperti mempererat solidaritas antarwarga dan melestarikan budaya warisan nenek moyang.

    Selanjutnya, buku ini menyoroti "Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon sebagai Ekspresi Budaya Islam." Tradisi ini merupakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang unik dengan ciri khas berupa iringan makanan, khususnya ampyang atau nasi berkat yang dibagikan kepada warga. Pembahasan dimulai dengan sejarah tradisi ini dan perannya sebagai bentuk dakwah Islam di desa tersebut. Tradisi Ampyang Maulid mencerminkan perpaduan antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal, yang terlihat dalam simbol-simbol budaya dan tata cara perayaan. Nilai-nilai seperti fungsi sosial, pendidikan, dakwah, dan identitas kultural sangat kental dalam tradisi ini. Pengaruh dakwah Sultan Hadirin juga diuraikan untuk menjelaskan bagaimana tradisi ini bertahan hingga sekarang.

    Bagian berikutnya membahas "Tenun Trosofest di Desa Troso, Kabupaten Jepara." Tenun Troso adalah warisan budaya berupa kerajinan kain tenun yang memiliki motif khas. Bab ini membahas sejarah Tenun Troso, berbagai motif yang ada seperti motif gelombang, garis lurus, garis miring, ketupat, dan segitiga. Setiap motif memiliki makna simbolis dan nilai-nilai tertentu yang mencerminkan filosofi hidup masyarakat setempat. Tradisi Tenun Trosofest adalah festival tahunan yang merayakan kerajinan ini melalui berbagai kegiatan seperti pameran, lomba, dan pertunjukan seni. Festival ini juga mengandung nilai-nilai keislaman, seperti semangat kerja keras, kreativitas, dan gotong-royong. Melalui festival ini, tradisi tenun dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, sekaligus mempromosikan kerajinan khas Jepara ke tingkat yang lebih luas.

    "Tradisi Buka Luwur Makam Syekh Abdul Ghofur di Desa Bae, Kudus" menjadi topik selanjutnya. Tradisi ini merupakan ritual tahunan untuk mengganti kain penutup makam Syekh Abdul Ghofur, seorang ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Bab ini menguraikan latar belakang Syekh Abdul Ghofur, metode dakwah yang digunakan, serta rangkaian acara Buka Luwur. Selain itu, dijelaskan tujuan dari tradisi ini, seperti menjaga nilai-nilai religius dan sosial, serta memperkuat hubungan antarwarga. Tradisi Buka Luwur juga memiliki manfaat dalam bidang pendidikan karakter, seperti mengajarkan sikap gotong-royong, penghormatan terhadap leluhur, dan kepedulian sosial.

    Bab selanjutnya mengupas "Tradisi Gula Teh di Desa Sukareja." Tradisi ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat untuk berbagi gula dan teh sebagai simbol sedekah, silaturahmi, dan saling memaafkan. Pembahasan meliputi sejarah tradisi ini, pelaksanaan ritual, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini memiliki tujuan untuk mempererat hubungan antarwarga, menghormati orang yang lebih tua, dan menjaga kebersamaan. Tradisi Gula Teh juga mengandung berbagai manfaat sosial dan spiritual, seperti memperkuat solidaritas dan menjaga keharmonisan masyarakat.
    Ada masalah dengan produk ini?

    ULASAN PEMBELI

    Toped Illustration

    Belum ada ulasan untuk produk ini

    Beli produk ini dan jadilah yang pertama memberikan ulasan