Atur jumlah dan catatan
Stok Total: Sisa 3
Subtotal
Rp100.000
Ragam Ritual Jawa Tradisi sebagai Warisan Spiritual dan Sosial Edisi 2
Rp100.000
Edisi pertama bisa dibeli di
https://www.tokopedia.com/sjm-kudus/ragam-ritual-jawa-tradisi-sebagai-warisan-spiritual-dan-sosial-edisi-1
Penulis: Desy Aliyaningrum, dkk.
Editor: Riza Zahriyal Falah
Tata Letak dan Sampul: Tim Sinar Jaya Mandiri Kudus
Sinopsis Buku
Buku Ragam Ritual Jawa:Tradisi sebagai Warisan Spiritual dan Sosial Edisi 2 menggali kekayaan tradisi-tradisi adat yang masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa Timur. Setiap bab dalam buku ini mengungkap ritual-ritual yang bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga sarana untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia, leluhur, dan alam. Dengan latar belakang sejarah dan filosofi yang mendalam, tradisi-tradisi ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Jawa menjaga warisan budaya mereka di tengah arus modernisasi.
Salah satu tradisi yang dibahas adalah Tradisi Meron dari Desa Sukolilo, Pati. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan memiliki akar sejarah dari masa Kesultanan Mataram. Prosesi Meron melibatkan pembuatan simbol-simbol seperti Mustaka (kepala), Gunungan, dan Ancak, yang masing-masing memiliki makna filosofis dan religius. Mustaka melambangkan kepemimpinan dan semangat keprajuritan, sementara Gunungan dan Ancak merepresentasikan persatuan, perlindungan, dan keikhlasan. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini mencakup seni, religiusitas, kebersamaan sosial, dan ekonomi lokal. Tradisi Meron, meskipun mengalami modernisasi, tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sukolilo.
Buku ini juga membahas tradisi Sedekah Bumi yang merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Di Desa Wates, Kudus, tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1920-an dan direvitalisasi pada tahun 2009 sebagai bagian dari upaya melestarikan adat lokal. Rangkaian acara Sedekah Bumi melibatkan doa bersama, pentas seni, festival kuliner tradisional, dan kirab budaya. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam serta mempererat hubungan sosial melalui kebersamaan dan gotong royong.
https://www.tokopedia.com/sjm-kudus/ragam-ritual-jawa-tradisi-sebagai-warisan-spiritual-dan-sosial-edisi-1
Penulis: Desy Aliyaningrum, dkk.
Editor: Riza Zahriyal Falah
Tata Letak dan Sampul: Tim Sinar Jaya Mandiri Kudus
Sinopsis Buku
Buku Ragam Ritual Jawa:Tradisi sebagai Warisan Spiritual dan Sosial Edisi 2 menggali kekayaan tradisi-tradisi adat yang masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa Timur. Setiap bab dalam buku ini mengungkap ritual-ritual yang bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga sarana untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia, leluhur, dan alam. Dengan latar belakang sejarah dan filosofi yang mendalam, tradisi-tradisi ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Jawa menjaga warisan budaya mereka di tengah arus modernisasi.
Salah satu tradisi yang dibahas adalah Tradisi Meron dari Desa Sukolilo, Pati. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan memiliki akar sejarah dari masa Kesultanan Mataram. Prosesi Meron melibatkan pembuatan simbol-simbol seperti Mustaka (kepala), Gunungan, dan Ancak, yang masing-masing memiliki makna filosofis dan religius. Mustaka melambangkan kepemimpinan dan semangat keprajuritan, sementara Gunungan dan Ancak merepresentasikan persatuan, perlindungan, dan keikhlasan. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini mencakup seni, religiusitas, kebersamaan sosial, dan ekonomi lokal. Tradisi Meron, meskipun mengalami modernisasi, tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sukolilo.
Buku ini juga membahas tradisi Sedekah Bumi yang merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Di Desa Wates, Kudus, tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1920-an dan direvitalisasi pada tahun 2009 sebagai bagian dari upaya melestarikan adat lokal. Rangkaian acara Sedekah Bumi melibatkan doa bersama, pentas seni, festival kuliner tradisional, dan kirab budaya. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam serta mempererat hubungan sosial melalui kebersamaan dan gotong royong.
Ada masalah dengan produk ini?
ULASAN PEMBELI

Belum ada ulasan untuk produk ini
Beli produk ini dan jadilah yang pertama memberikan ulasan