Buku ini menyajikan sejumlah cerita, tentang sepasang stasiun yang dibangun untuk mengekalkan kesunyian, tentang kereta api yang membuat penumpangnya melupakan segalanya, tentang lelaki yang mengabdikan dirinya sebagai penjaga lautan, tentang seorang komandan perang yang menikahi penari ular, tentang pulau terasing yang malam harinya dinyalakan dengan air mata, dan tentu saja, tentang sebuah kisah cinta yang harus berakhir karena tak mampu menghadirkan kesedihan.
“Jadi, kita memang harus berpisah,” kata Nalea. “Tapi kenapa? Apa aku pernah melukaimu?” “Justru sebaliknya. Kau tidak pernah membuatku bersedih. Dan apa yang tidak bisa membuatku bersedih, ia juga tidak bisa membuatku bahagia.”
Dalam kisah percintaan yang absurd, terkadang sebuah perpisahan datang dari arah yang tak pernah diduga. “Serupa gempa yang menjalar di perut-perut bumi, serupa badai yang bersembunyi di bilik-bilik awan, serupa tsunami yang membangunkan ikan-ikan di lautan.”