Atur jumlah dan catatan
Stok Total: Sisa 1
Subtotal
Rp68.000
Cahaya di Penjuru Hati - Alberthiene Endah - Andi
Rp68.000
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Andi
Halaman: 448
Kondisi: ORI + baru + segel
"Tiga Hari Untuk Selamanya"
Gondo berada di lorong hening. Ia tak melihat ujung, tak juga melihat kebuntuan. Yang ia lihat hanyalah dinding yang menghimpit. Mengepungnya dan memberi pesan yang sangat jelas: geraknya terbatas. Ia memang masih bisa berjalan. Menapaki harapan. Melangkah lurus menyusuri lorong yang tak pernah ia tahu ujungnya. Akan tetapi ia tak bisa mengambil arah yang berbeda. Tak bisa berkelit. Tak bisa memutar. Berjalan saja ke depan, bersekutu dengan harapan. Satu-satunya yang ia yakini masih ada, kepercayaan bahwa Tuhan sedang mendengarnya.
Itu yang ia rasakan ketika menatap perempuan yang paling dicintainya, Lili. Istrinya bukan lagi berupa perempuan dengan senyum penuh dan mata yang berkerjab indah. Lili tertidur. Atau lebih tepatnya tak sadarkan diri. Selang-selang medis menancap di tubuhnya. Peralatan kedokteran menghasilkan satu-satunya bunyi di ruang ICU. Selebihnya hanya bunyi napas perempuan itu. Amoniak telah meracuni tubuhnya dan mencabiknya dengan kekuatan yang tak terlihat. Seluruh organ tubuh dibuat tak berdaya. Kekuatan otak dilumat. Begitu dahsyatnya siksaan itu hingga perempuan indah yang begitu hidup itu kemudian lunglai. Tak menyentuh lagi dunia. Tidak tatapannya. Tidak kesadarannya. Ia telah sangat berjarak dengan dunia. Dokter mengatakan, istrinya koma.
Gondo kini mematung. Ia dihadapkan pada kenyataan, waktunya bukan lagi sesuatu yang powerful. Waktu yang ia miliki untuk merentangkan harapan begitu lemah. Bahkan ia tak bisa banyak berbuat di tengah waktu yang sempit itu. Ia hanya bisa berharap. Dokter mengatakan sesuatu yang sangat pahit. Kemungkinan hidup istrinya tinggal beberapa persen saja. Amoniak dengan keji terus meluluhlantakkan semua oragn karena fungsi hati yang telah lumpuh. Di dalam waktu yang sempit itu satu-satunya senjata yang bisa ia kerahkan hanyalah harapan.
Ruang ICU yang mencekam dengan istri tercinta, Lily, yang terbujur koma membuat Gondo dihantar untuk menguliti kehidupan yang telah lewat. Rasa cemas kehilangan cinta sejati yang amat ia kasihi membuatnya memutar ulang kenangan yang membangun hidupnya. Dan ia temukan suatu perjalanan yang menakjubkan yang tidak disadarinya. Hidupnya selama ini luar biasa.
Ternyata ketika seseorang berada di tepian jurang rasa takut kehilangan, segala keindahan yang pernah diberikan orang tercinta muncul bagai gelombang tak terbendung. Kehidupan maha dahsyat dengan kekuatan cinta pun mengalir kembali, seperti sebuah film yang diputar dalam benak. Gondo pun menghayati hidupnya kembali, anak laki-laki dari keluarga miskin yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang bercahaya.
Ia lalu dipertemukan dengan seorang perempuan luar biasa yang kemudian menemaninya meniti hidup. Mencapai apa yang ia perjuangkan. Kehidupan keluarga yang indah dan bisnis. Dan layaknya kehidupan yang juga dialami banyak orang, perpisahan akhirnya menjadi bagian yang tak terhindarkan. Istrinya yang sedang koma mengalirkan sinyal perpisahan.
Novel berdasarkan kisah nyata ini menggulirkan cerita sederhana yang sangat menyentuh dan menjadi cermin bagi kebanyakan orang. Cinta adalah tonggak penting yang mampu menegakkan seseorang. Di dalam pertarungan kehidupan yang berat dan sering tak tertanggungkan, cinta memainkan perannya yang vital dan berpengaruh.
Kisah ini mengajak kita untuk kembali menghayati nilai indah cinta dan kesetiaan.
Penerbit: Andi
Halaman: 448
Kondisi: ORI + baru + segel
"Tiga Hari Untuk Selamanya"
Gondo berada di lorong hening. Ia tak melihat ujung, tak juga melihat kebuntuan. Yang ia lihat hanyalah dinding yang menghimpit. Mengepungnya dan memberi pesan yang sangat jelas: geraknya terbatas. Ia memang masih bisa berjalan. Menapaki harapan. Melangkah lurus menyusuri lorong yang tak pernah ia tahu ujungnya. Akan tetapi ia tak bisa mengambil arah yang berbeda. Tak bisa berkelit. Tak bisa memutar. Berjalan saja ke depan, bersekutu dengan harapan. Satu-satunya yang ia yakini masih ada, kepercayaan bahwa Tuhan sedang mendengarnya.
Itu yang ia rasakan ketika menatap perempuan yang paling dicintainya, Lili. Istrinya bukan lagi berupa perempuan dengan senyum penuh dan mata yang berkerjab indah. Lili tertidur. Atau lebih tepatnya tak sadarkan diri. Selang-selang medis menancap di tubuhnya. Peralatan kedokteran menghasilkan satu-satunya bunyi di ruang ICU. Selebihnya hanya bunyi napas perempuan itu. Amoniak telah meracuni tubuhnya dan mencabiknya dengan kekuatan yang tak terlihat. Seluruh organ tubuh dibuat tak berdaya. Kekuatan otak dilumat. Begitu dahsyatnya siksaan itu hingga perempuan indah yang begitu hidup itu kemudian lunglai. Tak menyentuh lagi dunia. Tidak tatapannya. Tidak kesadarannya. Ia telah sangat berjarak dengan dunia. Dokter mengatakan, istrinya koma.
Gondo kini mematung. Ia dihadapkan pada kenyataan, waktunya bukan lagi sesuatu yang powerful. Waktu yang ia miliki untuk merentangkan harapan begitu lemah. Bahkan ia tak bisa banyak berbuat di tengah waktu yang sempit itu. Ia hanya bisa berharap. Dokter mengatakan sesuatu yang sangat pahit. Kemungkinan hidup istrinya tinggal beberapa persen saja. Amoniak dengan keji terus meluluhlantakkan semua oragn karena fungsi hati yang telah lumpuh. Di dalam waktu yang sempit itu satu-satunya senjata yang bisa ia kerahkan hanyalah harapan.
Ruang ICU yang mencekam dengan istri tercinta, Lily, yang terbujur koma membuat Gondo dihantar untuk menguliti kehidupan yang telah lewat. Rasa cemas kehilangan cinta sejati yang amat ia kasihi membuatnya memutar ulang kenangan yang membangun hidupnya. Dan ia temukan suatu perjalanan yang menakjubkan yang tidak disadarinya. Hidupnya selama ini luar biasa.
Ternyata ketika seseorang berada di tepian jurang rasa takut kehilangan, segala keindahan yang pernah diberikan orang tercinta muncul bagai gelombang tak terbendung. Kehidupan maha dahsyat dengan kekuatan cinta pun mengalir kembali, seperti sebuah film yang diputar dalam benak. Gondo pun menghayati hidupnya kembali, anak laki-laki dari keluarga miskin yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang bercahaya.
Ia lalu dipertemukan dengan seorang perempuan luar biasa yang kemudian menemaninya meniti hidup. Mencapai apa yang ia perjuangkan. Kehidupan keluarga yang indah dan bisnis. Dan layaknya kehidupan yang juga dialami banyak orang, perpisahan akhirnya menjadi bagian yang tak terhindarkan. Istrinya yang sedang koma mengalirkan sinyal perpisahan.
Novel berdasarkan kisah nyata ini menggulirkan cerita sederhana yang sangat menyentuh dan menjadi cermin bagi kebanyakan orang. Cinta adalah tonggak penting yang mampu menegakkan seseorang. Di dalam pertarungan kehidupan yang berat dan sering tak tertanggungkan, cinta memainkan perannya yang vital dan berpengaruh.
Kisah ini mengajak kita untuk kembali menghayati nilai indah cinta dan kesetiaan.
Ada masalah dengan produk ini?
ULASAN PEMBELI

Belum ada ulasan untuk produk ini
Beli produk ini dan jadilah yang pertama memberikan ulasan