9 Tahun Bersama Tokopedia: Mengubah Mimpi menjadi Inspirasi

13894

Bertepatan dengan hari ulang tahun ke-73 Indonesia, Tokopedia genap berusia sembilan tahun. Lewat misi pemerataan ekonomi secara digital, kini sudah lebih dari empat juta masyarakat Indonesia telah memulai dan mengembangkan bisnisnya bersama Tokopedia. Mereka melayani lebih dari 78 juta masyarakat Indonesia yang setiap bulannya mengunjungi Tokopedia.

Bagi kami, para seller Tokopedia bukan hanya sekedar pebisnis biasa. Mereka adalah persona yang memiliki mimpi besar dan pantang menyerah untuk mewujudkannya. Tidak sedikit dari mereka yang memulai sendiri dan memekarkan usahanya dari bawah, dengan modal seadanya. Selain gigih dan berani, para pebisnis ini juga berperan besar sebagai kunci penggerak perekonomian. Mereka dapat memberikan kesempatan bekerja pada orang-orang di lingkungan sekitar, membantu meningkatkan perekonomian di daerahnya.

Berikut ini adalah beberapa seller yang mewakili empat juta lainnya, mereka setia mengembangkan bisnisnya bersama Tokopedia, mulai dari bawah sampai saat ini:

Peukan Online, Aceh

Anggun Kasturi adalah seorang remaja perempuan survivor tsunami di Aceh yang terjadi tahun 2004 silam. Kehilangan tempat tinggal dan ayahanda yang ia sayangi membuatnya harus berusaha kembali dari nol. Ia memulai brand oleh-oleh khas setempat, produk pisang sale buatan ibunya yang dipasarkan di lingkungan sekitar rumahnya. Alhasil, Anggun berhasil membuat produk asal Aceh dikenal lebih banyak orang, dari Sumatera hingga tanah Papua.

Ikuti kisah Peukan Online di: http://bit.ly/peukanaceh

Pondok Bang Fajeri, Kalimantan

Di usia yang tak muda lagi, Fajeri baru memiliki kesempatan untuk mempelajari internet marketing dengan bermodalkan laptop pinjaman. Melalui internet marketing, Fajeri melihat peluang bisnis dan memutuskan untuk menjual oleh-oleh khas Kalimantan. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. “Dengan belajar, saya sadar bahwa dunia berkembang begitu pesat, kalau kita tidak belajar dan membuka pikiran pada perubahan, kita bisa tertinggal,” ucapnya.

Ikuti kisah Pondok Bang Fajeri di: http://bit.ly/pondokbangfajeri

Liontin ID, Palembang

Beberapa tahun silam, Dheka bekerja sebagai desainer di negeri tetangga. Saat ia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan mulai berjualan online, banyak orang yang mempertanyakan keputusan Dheka. Pada akhirnya perjuangan Dheka terbayarkan saat melihat produknya digunakan oleh banyak orang. “Kalau kita menginginkan sesuatu, kita hanya butuh keberanian untuk mengejarnya,” ucap Dheka.

Ikuti kisah Liontin ID di: http://bit.ly/liontinid

Mendekor, Jakarta

Di usia yang masih tergolong muda, Brian telah memiliki usaha furnitur online. Ide bisnis ini didapat dari pengalamannya menimba ilmu dan bekerja di luar negeri. Dalam melakukan persiapan, Brian turun ke lapangan secara langsung untuk mencari material dan membangun kerjasama dengan para pengrajin dari pelosok pulau Jawa dan Bali. Lewat Tokopedia, Brian memasarkan produknya hingga ke seluruh Indonesia. Harapan ke depannya adalah ia ingin memperluas jangkauan pasar dan bisa bekerja sama dengan pengrajin dari luar pulau Jawa dan Bali.

Ikuti kisah Mendekor di: http://bit.ly/mendekor

Noonaku Signature, Jakarta

Karena desakan untuk memenuhi kebutuhan biaya dan perlengkapan kuliah di bidang arsitektur, kakak beradik bernama Flo dan Felicia merintis bisnisnya secara online dengan modal nol rupiah. Berawal dari menjadi reseller pakaian saat kuliah, kini usaha keduanya berbuah manis. Mereka telah memiliki brand sendiri berlabel NoonaKu Signature, yang beromzet miliaran rupiah dan mampu menembus pasar Singapura. Kini, mereka bahkan telah mampu membelikan rumah untuk orang tuanya.

Ikuti kisah Noonaku Signature di: http://bit.ly/noonakusignature

Smitten by Pattern, Jakarta

Memiliki kemampuan bercerita melalui gambar, Laras dan Ella, dua perempuan yang bersahabat sejak di bangku SMP, membangun bisnis di bidang tekstil. Smitten by Pattern menjual kain bermotif unik yang nantinya diproduksi menjadi scarf, sarung bantal, pakaian, dan berbagai produk lainnya. Dengan berkarya sepenuh hati, Laras dan Ella sangat memperhatikan makna dan nilai seni dari setiap motif pada produk Smitten by Pattern.

Lancar Berkah, Malang

Tinggal di kawasan dengan mayoritas profesi pengrajin tempe membuat Pak Nanang dan para tetangganya ikut menekuni profesi tersebut. Bermula dari pemasaran melalui word of mouth, Pak Nanang melihat adanya potensi pada platform online. Hal inilah yang akhirnya mengenalkannya pada Tokopedia. Sejak bergabung dengan Tokopedia, produknya pun bisa dipasarkan dari Sabang sampai Merauke. Bersama dengan tetangga dan saudaranya, Pak Nanang tak berhenti memberikan produk dengan kualitas terbaik untuk para pembeli. Secara langsung ia dan istrinya telah menciptakan peluang bagi masyarakat sekitar sambil terus berinovasi dengan produknya.

Ikuti kisah Lancar Berkah di: http://bit.ly/lancarberkah

Lightcraft, Surabaya

Pengalaman bekerja di kapal pesiar sambil keliling dunia membuat wawasan Guntoro menjadi terbuka, ia melihat cotton ball light cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, produk ini masih didapat secara import. Guntoro pun bertekad untuk menjadi produsen cotton ball light pertama di Indonesia. Lewat banyak trial and error, kerja keras Guntoro dan rekannya pun terbayar. Sekarang, ia tengah memasarkan produknya sampai ke mancanegara.

Ikuti kisah Lightcraft di: http://bit.ly/lightcraftsurabaya

Insana, Kupang

Berawal dari rasa cinta akan kampung halamannya, Yessy Tamonob dan Rode Ayu, dosen Yessy semasa kuliah, memulai bisnis oleh-oleh khas Kupang. Mereka menjual souvenir, aksesoris, hingga makanan khas Kupang. Selain bisnis oleh-oleh tradisional, Yessy dan Rode Ayu menjalankan bisnis yang bergerak di bidang biro travel dengan tujuan untuk memperkenalkan objek wisata Kupang yang indah, namun masih kurang populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Meski pada awalnya Yessy dan Rode dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya, pada akhirnya mereka dapat memperkenalkan komoditi, objek pariwisata dan budaya Nusa Tenggara Timur ke seluruh Indonesia melalui Insana.

Sembilan seller ini adalah pengejar mimpi. Lebih dari sekadar penjual, mereka mengubah mimpi menjadi inspirasi. Terima kasih kepada empat juta seller yang sudah memulai mimpinya dan bergerak bersama Tokopedia untuk merealisasikan misi pemerataan ekonomi secara digital. Mulai mimpimu bersama Tokopedia.

———

9 Years Together with Tokopedia

On Indonesia’s 73rd Independence Day, Tokopedia celebrates its 9th anniversary. We look back on the four million merchants who have started their business with Tokopedia and progressed us in our mission to democratize commerce through technology.

Tokopedia sellers are not just entrepreneurs. Our sellers are first and foremost dreamers, who dream with their eyes open, who are willing to work hard to achieve their goals. Collectively, our sellers make up a new economic movement who provide opportunities for those around them and accelerate Indonesia’s economic development.

Below are some of our favorite seller stories to represent this new economic movement. Many sellers are first-time entrepreneurs who started their business from zero with minimal capital nor prior experience leading businesses. We admire their willingness to start and persistence to grow against all odds.

Peukan Online, Aceh

Anggun Kasturi counts herself as one of the lucky survivors of the Aceh tsunami in 2004, even though she lost her home and her father on the same day. She gathered strength and in the wake of the tragedy started a business selling hometown staple food, including pisang sale, banana chips. The business that she founded became a new source of livelihood for her mother and her surrounding community as they rebuild their lives from the ashes. Peukan Online has grown to be one of the most sustainable businesses in Aceh and serves customers all over Indonesia.

Watch Anggun’s story: http://bit.ly/peukanaceh

Liontin ID, Palembang

Dheka Rhiana finds joy in creating since she was young. She became an accessory designer abroad. After a few years, Dheka decided to come back to Indonesia. Initially fearing that there was not going to be enough customers in Indonesia, Dheka became a seller on Tokopedia and found a large demand online. She successfully created Liontin ID’s brand online with Tokopedia and shares her creation with many customers all over Indonesia. Her biggest reward as an entrepreneur and seller is seeing her design worn by her customers. Her advice: “If we truly want something, we just need the courage to pursue our goals.”

Watch Dheka’s story: http://bit.ly/liontinid

Pondok Bang Fajeri, Kalimantan

“It’s never too late to learn,” says Fajeri Hidayat. Fajeri learned to do internet marketing via a borrowed laptop at a more advanced age. Fajeri sees the internet not only as a platform of opportunities, but also as a solution to bring people closer to familiar tastes and food from their hometown. Fajeri’s business, Bang Fajeri, sells local food to people all over Indonesia. He encourages entrepreneurs to keep up with the times with Tokopedia. “If we don’t open our mind to change, we will be left out,” says Fajeri.

Watch Fajeri’s story: http://bit.ly/pondokbangfajeri

Mendekor, Jakarta

“We have not maximized the potential of our local makers,” says Brian Karno Jan. Years of studying interior design made Brian realize that Indonesia has an untapped potential in its local craftsmen. Access to know-how remains limited; local craftsmen have not mastered how to market their products effectively. Brian partners with craftsmen in Java and Bali and started Mendekor, an online furniture shop that sells beautifully designed local furniture. Through Mendekor, local craftsmen can tap into a nationwide market and earn greater livelihood. Brian’s next goal is to partner with craftsmen outside of Java and Bali and broaden their market.

Watch Brian’s story: http://bit.ly/mendekor

Noonaku Signature, Jakarta

Florentia Jeanne and Felicia Febry had limited funding to study architecture and started NoonaKu Signature, a reseller for college clothing, with limited capital. Today, NoonaKu Signature, has blossomed into a fashion house that makes affordable design for women in Indonesia and Singapore. The two sisters aim to empower women to express themselves and gain confidence through their designs. They are happy that they can help others by following their path.

Watch Flo’s and Felicia’s story: http://bit.ly/noonakusignature

Smitten by Pattern, Jakarta

Laras and Ella are friends since junior high school. The two women leverage their ability to tell stories with pictures to create Smitten by Pattern. Smitten by Patten sells unique patterned fabrics that could be made into scarfs, pillowcases, clothing, and other products. Laras and Ella pay close attention to the meaning and the artistic value of every pattern they produced in Smitten by Pattern.

Lancar Berkah, Malang

Inspired by their neighbors who are tempe producers, Muhammad Nanang and Yani Setya started Lancar Berkah, a business selling tempe. At first, they were relying on word-of-mouth to grow their business, but Muhammad and Yani suspected that the online world could be promising. True to their belief, Lancar Berkah found a large market demand the moment they joined Tokopedia. Muhammad and Yani continues to create opportunities for the people around them and bring quality products for their customers.

Watch Muhammad’s and Yani’s story: http://bit.ly/lancarberkah

Lightcraft, Surabaya

Having experience working in a cruise ship sailing all around the world has opened Guntoro’s mind, he observed that cotton ball lights have gained Indonesian’s interest. Sadly, this product can only be obtained through the import process. Guntoro then decided to become the first producer of cotton ball lights in Indonesia. Through trial and error, Guntoro and his friends’ hard work is paid off. Now, he is in the midst of selling the products abroad.

Watch Guntoro’s story: http://bit.ly/lightcraftsurabaya

Insana, Kupang

Yessy Tamonob and Rode Ayu had an idea to start a business selling souvenirs, accessories, to Kupang staple food. Although in the beginning Yessy and Rode were underestimated by the people around them, in the end, they are able to introduce the commodity and culture of East Nusa Tenggara to Indonesia through Insana.

In addition to selling traditional souvenirs, Yessy and Rode Ayu run a travel business that introduces beautiful tourist sites not commonly known by Indonesians.

These ten sellers are dream-chasers. More than just selling goods, these people turn dreams into inspiration. Thank you to the four million sellers who have started their dreams and move ahead with Tokopedia in helping democratize commerce through technology into reality.

Bagikan Artikel